Lihat, Baca, Dan Resapi!
Aku hanyalah manusia biasa yang ingin bercerita...

Edisi

Total Tayangan Halaman

Senin, 23 Mei 2011

Wanita itu bernama, Pritta !

Dia adalah seorang wanita,
Namanya Pritta.

Mungkin anda pernah bertemu dengannya. Di Mall, Night club, atau ditempat lainnya.

Ya, Pritta !

Dia merasa, dia adalah seorang manusia yang beruntung, karena diciptakan oleh Tuhan sebagai seorang wanita.

Karena Tuhan telah menganugerahkan kepadanya wajah yang cantik, tubuh yang indah semampai, dan juga kecerdasan otak yang begitu tajam.

Prita adalah seorang wanita karir, yang saat ini bekerja disalah satu perusahaan asing di Jakarta. Dia termasuk wanita yang disiplin, mencintai tantangan, dan juga suka sekali berinteraksi dengan orang banyak.

Selain bekerja sebagai wanita karir, ia juga memiliki pekerjaan sampingan. Dimana pekerjaan itu, sangat membuat dia merasa fun. Enjoy ! Dan ia sangat mencintai pekerjaannya itu.

Pagi
Siang
Malam

Ya. Pritta adalah seorang entertain tanda kutip !

Pritta adalah seorang penghibur. Begitu ia ingin disebutnya.

Bukan tunawisma
Lonte
Atau bahkan pelacur !

Ia lebih nyaman dengan sebutan,
Sang penghibur !

Pritta biasa menghibur kaum lelaki yang haus akan cinta sesaat, cinta satu malam.

Dan jika ada yang bertanya padanya, apakah menjadi pelacur bagian dari mimpinya ? Maka ia akan menjawab,

“Tidak juga !”

Menjadi pelacur bukanlah bagian dari rangkaian impian dalam hidupnya. Melainkan sebuah keterlanjuran. Pritta sesungguhnya hanyalah korban dari Ibunya. Darah kotor yang mengalir di tubuh Ibunya, ternyata juga ikut mengalir didalam tubuh Pritta.

Ibunya adalah seorang pelacur. Ibu bisa tidur dengan siapa saja. Tidak pernah mempermasalahkan seberapa tampan pria yang mengajaknya kencan, yang terpenting bagi Ibu adalah kepuasan !

Kepuasan batin sebagai seorang janda yang baru ditinggal mati oleh suaminya. Kepuasan sebagai seorang Ibu rumah tangga yang membutuhkan banyak uang untuk menghidupi kehidupan sehari- hari keluarganya.

Padahal Ibu juga bekerja sebagai wanita karir disebuah perusahaan asing di Jakarta. Tapi kata Ibu, dengan gaji yang segitu, kita tidak bisa hidup di Jakarta yang serba ‘Wah !’  Mungkin kalau kita tinggal di desa, lain lagi ceritanya. Begitu menurut Ibu.

Ya...
Pritta menjadi pelacur karena Ibu !

Semua berawal ketika Ibu meninggalkannya seorang diri dirumah selama satu pekan lamanya, dan membiarkan teman laki-lakinya menjamah tubuh Pritta, ketika itu Pritta masih berusia belia.

Pritta mengadukan semua yang teman lelaki Ibu lakukan kepadanya. Namun sayang, Ibu sama sekali tidak mempercayainya. Ibu malah menyalahinya. Ibu bilang, mungkin ia yang menggoda. Dan memaki Pritta dengan makian kasar,

'Dasar Lonte !'

Pritta tidak pernah mengerti, mengapa Ibu begitu membencinya. Mengapa Ibu tidak pernah mencintainya. Mengapai Ibu tidak pernah bisa sedikit saja mempercayainya.

Pritta ingin tahu, mengapa ?

Pritta seumur hidupnya mencari mengapa ? Namun tidak pernah juga ia temukan.

Pritta membenci Ibu dan juga membenci Pria.

Pritta tidak pernah mencintai Ibu dan juga tidak pernah mecintai pria.

Baginya semua Ibu sama. Hanya dia yang berbeda.
Baginya semua pria sama. Kecuali Ayahnya.

Baginya, tidak ada satu pun pria yang benar-benar tulus mencintai seorang wanita. Yang ada diotak mereka hanyalah, bagaimana bisa bersenggama dengan wanita yang masih kencang otot vaginanya.

Ya, begitu !

Pritta sudah tidak lagi berduka dan bertanya 'mengapa ?'
Pritta sudah tidak lagi terbayang betapa sakitnya ketika selaput daranya sobek untuk pertama kalinya.
Pritta sudah menjadi pelacur seutuhnya. Sama seperti Ibu.

Pritta bukanlah pelaku utama, dia hanya lah korban !

Pritta menikmati semua apa yang ia jalani saat ini.

Pritta sadar, tidak semua orang bisa menerima keadaan saya seperti ini. Banyak yang mencibir,dan bahkan tidak sedikit yang mengusir.

Pritta hanya bisa tertawa. Tidak bersedih.

Ia tahu, masih ada segelintir pria diluaran sana yang menunggu kehadirannya dikamar hotel atau kos-kosan.

Mungkin, ada juga orang yang beranggapan bahwa ia menjual tubuhnya hanya untuk merugikan dirinya sendiri.

Salah !

Pritta sama sekali tidak merasa dirugikan. Justru para pria lah yang seharusnya merasa rugi. Karena baginya, ia lah yang telah berhasil membeli kejantanan para pria !

Kejantanan mereka ia beli dengan harga tinggi, sebuah kenikmatan dan sensasi yang tidak akan pernah mereka lupa seumur hidup mereka.

Pritta begitu membenci pria. Baginya, mereka tak ubahnya seperi seekor binatang. Binatang yang memiliki otak dan hati yang kecil. Mereka lebih banyak mengandalkan otot, dan mengagungkan nafsu.

Pritta begitu membenci lelaki. Karena itu, ia akan merusak memori mereka hingga mereka tidak bisa lagi berpikir dengan jernih. Sebagaimana kaum mereka telah merusak kehormatannya.

Bukan harta, bukan juga tahta yang Pritta cari atau bahkan bukan karena sebongkol biji dan sekerat daging yang mengeras itu yang ia cari dari mereka. Bukan !

Pritta hanya mencari kepuasan batin.

Batinnya merasa puas, ketika ia bisa melihat mereka menggelinjang karena nafsu yang terus menyetrum hingga ke ubun-ubun mereka.

Batinnya merasa puas, ketika mereka mendesah, mereka terlentang pasrah, membiarkan ia bermain diseputar imajinasi mereka.

Pritta sangaaaaaaaat merasa puas, ketika ia mulai bisa mengendalikan semua permainan itu.

Pritta akan membuat mereka nampak seperti orang bodoh. Membuat mereka seperti kerbau yang dicocok hidungnya.

Pritta akan membawa mereka kesana, kemari, terbang ke langit tinggi dan melandaskannya kembali ke bumi, dengan keringat yang membanjir.

Ya, hanya itulah yang ia cari. Ia akan terus melakukannya. Sampai semua laki-laki tunduk pada wanita. Dan tidak lagi memandang wanita sebelah mata. Tidak lagi menjadikan wanita hanyalah sebagai penghias kamar tidur semata !

-SELESAI-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar