Lihat, Baca, Dan Resapi!
Aku hanyalah manusia biasa yang ingin bercerita...

Edisi

Total Tayangan Halaman

Selasa, 13 September 2011

BAMMA

Tiba-tiba saja pintu kamar rumahku terketuk keras.

Tok..Tok..Tok..

Aku beringsut malas dari tempat tidurku. Hey, ini masih pagi sekali! Mengapa waktu yang ku punya kerap tersandra. Diperkosa dengan aktifitas yang tidak kenal waktu. Siang. Malam. Hey, ini hari sabtu. Besok hari minggu. Aku tidak ingin digangguuuu!

Aku berjalan malas dengan mata sepat dan kepala pening. Kubuka pintu dengan kesal dan bibir maju sekian senti.

“Oh GOD!” Pekikku dalam hati. Mataku yang menyipit kini membulat. Lihat, siapa yang datang? Dia…
Aku diam memandanginya dengan kening yang berkerut. Mau apa dia?

“Maaf, kalau aku mengganggu. Aku tahu kamu pasti masih tidur tapi..,” katanya tapi buru-buru kupotong. Aku tahu kalimat apa yang akan ia katakan selanjutnya. Aku sudah tahu. Delapan tahun mengenalnya cukup bagiku untuk mengetahui apa yang sedang dirasa olehnya.

“Silahkan masuk!”

Sambil membuatkan teh tarik hangat kesukaanya hatiku teraduk-aduk. Ada beragam perasaan yang berujung dengan jutaan pertanyaan yang bersarang dikepalaku. Ada apa? Mengapa? Kenapa? Ah.. untuk apa?

Akhirnya kami duduk berhadapan kembali setelah terakhir kalinya sekitar dua tahun yang lalu di sebuah café dikawasan Serpong. Bukan lagi ribuan mil yang memisahkan kami, kini kami hanya dipisahkan meja kecil ruang tamu. Sungguh, sulit aku percayai bahwa dia ada didepanku lagi.

Dia menunduk sendu. Aku tahu ada masalah berat yang tengah dihadapinya, tapi apa?

“Silahkan diminum tehnya. Mumpung masih hangat.” Ujarku mencoba mencairkan suasana. Dia hanya mengangguk kecil dan meneguk dua kali cangkir teh itu.

Dia menghela nafas panjang. Berat. Ekspresi yang sama dengan yang terakhir kali kulihat saat ia memutuskan untuk meninggalkanku dan menikah dengan seorang gadis pilihan orangtuanya.

“Maaf aku kesini menemuimu lagi, maaf kalau kedatanganku mendadak dan…”

Ah, dia masih sama seperti dulu. Belum berubah. Terlalu banyak basa basi. Bertele-tele. Hal yang sangat tidak aku suka. “Sudahlah Bam, ada apa? To the point saja. Kau kan tahu kalau aku tidak suka berbasa-basi.”

“Baiklah Fin. Aku.. A..ku.. memutuskan berpisah dengan istriku. Dan aku ingin kembali denganmu.”

WHAAAAAT?!

Aku rasa sudah sinting ini orang. Entahlah habis melangkahi kuburan siapa dan kesambet setan apa dia, sehingga bisa-bisanya pagi seperti ini bicara ngaco seperti itu. Aku tersentak mendengar pernyataanya. Aku tak menjawab. I’m shock. Morning shock!

“Dindya sudah tahu semuanya.”

“Tahu apa?”

“Dindya tahu kalau aku adalah seorang gay!”

WHAAAAT?!

Mataku kembali membulat. Terkejut bukan main dengan apa yang ia katakan, “Bagaimana bisa?”

“Secara tidak sengaja Dindya membaca tulisan-tulisanku dan file-file pribadiku.”

“Bagaimana bisa?” tanyaku lagi.

“Saat itu laptop Dindya sedang rusak dan ia butuh untuk mengerjakan beberapa project menulisnya yang sudah dikejar deadline. Ia meminjam laptopku dan aku berikan. Tiga hari ia meminjamnya dan aku tidak terpikir kalau ia sampai mengobrak-abrik semua isi di laptopku. Aku pikir ia gunakan hanya untuk mengetik tapi nyatanya tidak. Akhirnya ia menemukan file yang sudah kusembunyikan. Ia membacanya dan melihatnya.”

“Membaca apa? Melihat apa?”

“Dindya membaca tulisanku tentang kamu. Ia melihat foto-foto kita dulu dan akhirnya ia tahu, kalau aku masih mencintaimu.”

DEGH!

Oh God, aku seperti tersengat alur listrik yang maha dahsyat. Dindya mengetahui semuanya? Mengetahui kalau aku dan Bamma pernah menjalin kasih dimasa lalu? Kisah kasih cinta yang terlarang dan sering di cemooh banyak orang? Oh God!

Ingin rasanya aku mengutuki Bamma yang bodoh luarbiasa. Mengapa ia tidak sampai kepikiran sejauh itu? mengapa ia tidak sampai memikirkan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi? Mengapa ia masih menyimpan semua foto-foto semasa berpacaran dulu? Dan yang lebih bodohnya lagi, mengapa ia masih mencintaiku, sedangkan aku sudah berusaha melupakannya dan nyaris berhasil! Bam, kau belum berubah. Kau masih saja gegabah!

“Dindya memintaku untuk menceraikannya. Ia marah besar dan baginya, ini adalah suatu aib yang tidak mungkin bisa dimaafkan. Ia tidak ingin nantinya memiliki anak dan anaknya tertular virus yang terlanjur menjangkit diriku. Ia tidak ingin itu terjadi.”

“Lalu kamu mengabulkannya?”

“Ya. Tidak ada pilihan lain. Hanya itu satu-satunya pilihan yang ia berikan.”

“Kamu bodoh sekali Bam! Lalu mengapa kamu menikahinya dulu?”

“Aku menikahinya bukan karena aku mencintainya. Aku hanya ingin menutup kecurigaan keluargaku. Aku tidak ingin sampai keluargaku tahu bahwa aku adalah seorang gay. Apalagi kamu tahu sendiri, keluargaku terpandang sebagai keluarga yang agamis. Itu akan menjadi musibah besar bagi keluargaku jika mereka tahu.”

“Untuk menghindari semua prasangka itu makanya aku menikah. Menikah dengan gadis pilihan orangtuaku. Tapi aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintaimu. Kamu cinta pertama dan terakhirku. Sungguh!”

Mata Bamma berkaca-kaca. Aku gemetar mendengar penjelasannya. Lalu bagaimana bisa ia menikah tanpa cinta? Dan kemudian berhubungan intim dengan istrinya tanpa cinta, hah? Bagaimana bisa? Kejam!

“Terus apa yang akan kau sampaikan nanti ke keluargamu? Apakah kamu akan bilang kalau kalian bercerai karena Dindya tahu kamu adalah seorang gay?”

“Tidak! Aku tidak akan menyampaikan alasan yang sebenarnya. Dindya pun sudah berjanji untuk merahasiakan semuanya. Dia tidak akan membicarakan ke siapa-siapa termasuk kekeluarganya. Kami akan menggunakan alasan karena sudah tidak ada lagi kecocokan di antara kami dan lain sebagainya. Untuk masalah alasan itu mudah, semua bisa direkayasa.”

Aku menggeleng-gelengkan kepala pelan. Tidak percaya. Bingung tidak tahu harus berbuat dan berkata apalagi. Hanya ada satu pertanyaan dihatiku saat ini, “Apa yang akan terjadi denganku dan Dindya dikantor besok?”

Aku dan Dindya bekerja dikantor yang sama. Kami bekerja disalah satu kantor surat kabar nasional yang berkantor di Jakarta. Aku menjabat sebagai kepala divisi keuangan dan sedangkan Dindya adalah salah satu editor yang mengurusi setiap berita dan tulisan-tulisan yang masuk. “Bisa-bisa perang dingin nih dikantor! Duh, sungguh, aku benar-benar tidak bisa membayangkannya!”

“Fin, bisa kan untuk malam ini aku menginap disini?”

“Untuk apa?” kataku dalam hati. “Hotel kan banyak!”

“Bisakan Fin? Semalam saja!”

Aku tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana? Dalam sudut hatiku mengatakan rindu tapi, tidak mungkin aku membiarkannya tidur dirumahku walaupun hanya satu malam. Hm, takut terjadi one night stand! Oh, NO!

Aku tahu hatiku tidak sekokoh tembok baja yang bisa menahan godaan. Walaupun Bamma tidak menggoda tapi melihat postur tubuhnya yang sedemikian indah. Tinggi 178 cm. Dengan paras yang sedemikian rupawan. Sungguh, aku tidak sanggup menahan godaan itu. aku tidak sanggup!

Aku menghela nafas panjang. Berat. Bagaimanapun juga aku harus mengatakannya. Aku tidak bisa. Bamma bisa tinggal ditempat lain. Aku tidak perduli. Aku harus mengutamakan keselamatan jiwaku yang sedang aku perbaiki. Aku tidak ingin melakukannya lagi. Aku ingin berubah. Aku ingin sembuh. Aku tidak ingin lagi tergoda.

Tapi, alasan apa yang harus aku berikan? Aku tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya kalau aku tidak bisa menerimanya karena alasan ini itu.

Handphone digitalku memekik keras. Satu panggilan masuk ; Bi Minah.

“Maaf Bam, aku angkat telepon dulu ya!” Kataku. Bamma mengangguk. Aku menemukan jalan keluar.

“Ya hallo, ada apa Cin?”

“Heh? Cin? Ini Bibi tuan. Bukan cin!” Sahut Bi Minah di ujung telepon.

“Ada apa? Kamu kangen ya sama aku?”

“Haduh si tuan, ono opo toh?”

“Gak papa. Aku baik-baik saja. Kapan kamu datang?”

“Iya nih tuan. Bibi nanti siang datang. Alhamdulillah, si Tole’ udah selesai sunatannya. Udah kering. Jadi sudah bisa ditinggal.”

“O ya sudah kalau begitu cepet ya Cin, aku udah kangen berat nih sama kamu.”

“Iya iya tuan. Nanti ya. Udah dulu ya tuan.”

“Bye-bye.”

Aku menutup telepon itu dengan kecupan mesra seolah-olah Bi Minah juga melakukan yang sama. Aku bisa membayangkan Bi Minah pasti bergidik ngeri dan kebingungan. Hihihi… biarlah. Yang penting aku selamat dan tidak tergoda oleh Bamma yang semakin tampan luar biasa.

“Siapa Fin?” tanya Bamma penasaran. Aku sudah bisa menduga sebelumnya. Ternyata aktingku berhasil membuat ia mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Yes!

“Pacar.”

“Secepat itu kamu melupakan aku dan mendapatkan penggantiku?”

“Iya.” Sahutku santai. “Aku sudah mendapatkan penggantimu. Maaf Bam, aku tidak bisa lagi seperti dulu. Aku akan menikah.”

“Jadi yang tadi telepon itu perempuan?”

“Iya. Dia orang yang akan mengurusi hidupku nantinya. Dia akan menemaniku.”

Wajah tampan itu nampak pucat, entahlah apa yang sedang Bamma rasakan dan pikirkan saat itu. Aku tidak mau lagi menerka-nerkanya. Aku akan membiarkan ia tenggelam dalam dialog hatinya sendiri. Aku tidak perduli.

“Baiklah, kalau begitu aku pamit.”

“Ya. Hati-hati!”

Bamma bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Satu langkah dari pintu, ia berbalik dan memelukku. Oh DAMN!

Tubuhku merasakan sensasi aneh itu kembali. Setelah sekian lama rasa semacam itu aku penjara dalam-dalam dan aku kunci kuat-kuat. Aku terus menerus merasakan sensasi aneh itu menjalar ke sekujur tubuhku seiring dengan pelukan Bamma yang kian kuat. Nafasnya mulai terdengar tak beraturan berbentur dengan nafasku yang demikian.

Bamma mencium bibirku kuat-kuat. Aku membalasnya. Bamma meremas dadaku. Aku melakukan hal yang sama. Dia terus mencumbuku. Aku menariknya masuk. Ku banting pintu dengan kaki dan dengan begitu halusnya ia melepaskan semua benang yang melekat ditubuhku tanpa sisa.

Tuhan, aku melakukannya lagi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar