Lihat, Baca, Dan Resapi!
Aku hanyalah manusia biasa yang ingin bercerita...

Edisi

Total Tayangan Halaman

Kamis, 28 April 2011

Ketika Cinta Tak Memilih...

Kisah seorang temanku yang gagah. yang bercerita dengan kondisi pilu yang sedemikian dalamnya !

"Ketika cinta tak memilih jenis kelamin,, maka..."

***

Gw gak pernah tahu kapan perasaan ini muncul. Gw gak pernah tahu kenapa ? Mengapa Perasaan ini muncul ?

Jangan pernah tanya itu ke gw. Karena sampai detik ini pun gw juga masih mencari jawabannya. Jawaban yang logis dan bukan sekadar mencari alasan. Jawaban yang bisa membuat hati gw tenang. Jawaban yang tidak menyimpang dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang.

Awalnya, gw rasa ini adalah sebuah perasaan yang wajar, mengagumi dan tidak lebih dari itu. Namun entahlah seiring bergulirnya waktu, dan seiring intensnya kami bertemu (papasan), sejak saat itu gw juga gak tahu kenapa perlahan gw begitu menikmati keindahan yang ada pada dirinya.

Yang gw ingat hanya satu, rasa kagum gw ketika melihatnya untuk pertama kali. Seumur hidup gw, baru kali ini gw bisa berdecak kagum untuk seorang pria. Baru kali ini !

***

Dia Pria. Masih muda. Usianya sekitar 22 tahun. 2 tahun jauh diatasku. Wajahnya tampan. Penampilannya menarik, gaya anak muda jaman sekarang. Kemeja lengan panjang digulung ke siku dengan kancing dibiarkan terbuka plus dalaman kaos oblong putih, di padupadankan dengan celana jeans, sepatu kets selalu menjadi ciri khasnya. Rapih. Fashionable. Namun tidak genit !

Tapi jujur, bukan itu yang membuatku...

Selisih beberapa waktu sering berpapasan dengannya, membuatku hafal wajah pemuda itu.

Sebentuk paras yang rupawan. Alur yang membentuk hidung, bibir, dan dagunya demikian menawan. Terlalu halus untuk laki-laki. Ketampanannya berbaur dengan kelembutan.

Postur tubuhnya ideal. Tidak gemuk, tidak kurus. Sepadan dengan tingginya 173 cm.

Dan selisih waktu sering berpapasan dengannya, membuat naluriku sebagai makhluk sosial muncul ingin mengenalnya.

“Raffa !” ucapku memperkenalkan diri suatu hari.

“Shandy !” balasnya.

Tangan kami pun bersentuhan. Hanya sedetik. Tapi sedetik yang menghanguskan seluruh jiwa raga.

Sejak saat itu aku mulai mengenalnya. Bukan lagi hanya sekadar berpapasan di koridor fakultas. Student centre. Ataupun cafe cangkir. Tapi kami pun memulai bertukar pikiran. Membicarakan berbagai macam hal yang berujung pada kedekatan hubungan kami.

Banyak hal yang tidak ku ketahui sebelumnya namun semenjak mengenalnya aku jadi tahu. Banyak yang hal tertutupi dari diriku sebelumnya namun semenjak mengenalnya perlahan lahan mulai terbuka satu persatu.

Dua kata yang pernah ia katakan padaku dan merubah diriku adalah, Keberanian dan ketegasan. Karena baginya, seorang laki-laki hanya membutuhkan dua hal itu. Itu bisa dijadikan dua modal dasar untuk menjalani hidup ini yang sudah sedemikian edannya. Begitu katanya.


Aku menemukan sosok yang selama ini hilang dari hidupku didalam dirinya. Sosok pelindung dan penguat langkahku. Sosok yang bijaksana dalam menentukan sikap. Sosok yang kubutuhkan sebagai figur. Sebagai teman seperjalanan. Sebagai ayah !

Didalam dirinya kutemukan semua yang ku rindukan. Didalam dirinya kutemukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang disekitarku, yang mengenalku. Dia tidak pernah sama sekali menuntut kesempurnaan dari diriku. Tidak seperti keluarga, teman, atau siapapun yang mengenalku sebelumnya. Hanya dia yang bisa menerimaku sebagai manusia, bukan malaikat !

Didalam dirinya kutemukan kebebasan. Itulah yang tidak pernah aku rasakan. Didalam dirinya juga, aku menemukan kehangatan seorang Ibu dan kekuatan seorang Ayah yang bersinergi menjadi satu.

Lambat laun pun aku mulai menikmati kedekatan ini dan selalu ingin ada disampingnya. Selalu ingin hanya dia, dia, dan dia yang ada dan selalu mengisi hariku, kalbuku.

Namun aku tersentak tersadarkan ketika aku mulai merasakan ada desiran-desiran halus yang terbubuh dihatiku ketika aku melihatnya. Aku merasa ada suatu yang ganjil yang menimpa diriku. Tapi apa ?

Aku mencari tahu. Ada yang salah kah dari hubungan ini ?

Getar aneh pun terus merayapi hatiku. Baru pertama kali ini aku tidak membutuhkan alasan untuk menginginkan sesuatu. Memahami tanpa perlu penjelasan. Aku mulai menyukai gerak geriknya. Aku mulai menyukai sentuhan-sentuhan lembutnya. Kata-kata yang keluar dari bibir tipisnya. Aku mulai menyukainya.

Dan detik pertama itu juga aku mulai merasa ada yang salah dari diriku. Tapi apa ? Aku seakan dibuat amnesia oleh pesona dirinya. Aku mulai mengutuki diriku sendiri. Mengapa semua ini bisa terjadi ?

Sungguh, aku tidak pernah menginginkan tubuhnya. Tidak pernah. Yang aku inginkan hanya satu, aku ingin menyayanginya selalu, selamanya. Tidak lebih dari itu. Dan aku pun juga mengharapkan dia begitu membalas rasa sayangku, membalas perhatianku. Tidak lebih dari itu.

Apakah dengan begitu masih terasa ganjil diriku, sahabat ? Bukankah sebagai makhluk sosial itu menjadi suatu hal yang wajar ? Setiap manusia ingin disayang dan diperhatikan.

Aku tidak setuju dengan anggapan bahwa diriku adalah seorang...
Tidak. Aku lelaki normal ! Aku masih punya rasa ketertarikan pada wanita dan ingin menikahinya. Mempunyai keturunan darinya.

Aku hanya sayang. Aku hanya cinta padanya. Tidak ingin mengikatnya dengan komitmen. Tidak ingin bersetubuh dengannya. Tidak !

Apakah itu masih terlihat salah, sahabat ?

Yang aku inginkan hanya dua hal itu. Tidak lebih. Aku tidak tahu mengapa aku mencintainya. Tapi yang aku tahu dan ingat, Tuhan memberikan rasa cinta kepada setiap hambaNya. Dan tergantung bagaimana hamba itu memanage-nya. Selagi tidak ada yang kami larang dari aturan-Nya, bukankah cinta kami ini masih terasa wajar ?

Cinta diam-diam...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar