Percaya atau tidak, waktu terasa bergulir begitu cepat. Tidak ada satupun manusia yang mampu menghentikannya. Tak terasa sudah hampir dua pekan ia berada di kota pantai timur Australia dan meninggalkan keluarga yang dicintanya di tanah air. Mengawali perjalanan hidupnya kembali sebagai civitas di negeri orang.
”Zaen... Zaen... ”
Pemuda yang memandang keluar jendela kamarnya diam tak mendengar.
”Zaen kamu melamun?” tanya Mirza tiba-tiba yang menyembul dari balik pintu.
”Eh kamu Mir, bikin kaget saja!” kejut Zaen sambil membalikan posisi duduknya mengarah ke pintu masuk. Mirza duduk ditepi ranjang Zaen.
”Melamunkan apa?”
”Ah tidak. Tidak ada yang aku lamunkan. Aku hanya merasa waktu berputar semakin cepat.”
”Ya aku juga merasakan hal yang sama ada sesuatu yang ingin kamu share ke aku Zaen? Aku perhatikan semenjak kembali dari Indonesia, kamu lebih banyak melamun. Ada apa?”
Zaen tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Getir.
”Bagaimana Zaen, apakabar keluargamu di Magelang?”
Ah, kena. Pertanyaan Mirza tepat mengenai sasaran. Persis dengan apa yang sedang Zaen pikirkan. Zaen menghela nafas berat.
”Alhamdulillah pada umumnya keluargaku sehat. Hanya saja bapak masih berjuang dengan penyakitnya dan adikku Zaadid masih belum ada kemajuan apa-apa.”
”Adikmu Zaadid memangnya kenapa?”
”Biasalah masalah klise anakmuda Mir. Adikku masih kelas 2 SMA dan semenjak masuk SMA itu, sikapnya berubah.”
”Berubah bagaimana?”
”Prestasinya menurun drastis. Malah sempat beberapa kali ketahuan membolos oleh adik perempuanku. Ditambah dengan sikapnya yang menjadi kasar. Ibu dan adik perempuanku sudah berkali-kali menasehatinya. Sedangkan bapak yang sekarang menderita sakit stroke itu pun akibat ulahnya. Aku sendiri sudah hampir kehabisan akal untuk menanganinya.”
”Kamu sudah mencoba mengajaknya berbicara dari hati ke hati?”
”Sudah Mir tapi, ia tetap bersikap dingin dan tidak mau bercerita apa-apa. Dia malah bilang aku terlalu ikut campur. Dia yang malah menyerangku dengan kata-kata kasar. Waktu itu bapak hampir saja memukulnya dengan sapu tapi, aku mencegahnya. Aku berpikir sikap kasar tidak bisa dibalas dengan perbuatan kasar juga.”
”Astaghfirullah. Kau benar Zaen tapi, aku rasa sekali-kali kamu harus bersikap tegas terhadap adikmu itu.”
”Iya aku tahu Mir tapi, apakah ketegasan itu dibuktikan dengan kekerasan seperti misalnya main tangan?”
Mirza menggeleng pelan, ”Ya. Tidak perlu sampai seperti itu! Lalu apa kamu sudah berusaha mencari tahu apa penyebabnya?”
”Aku sudah mencoba mencari tahu penyebab adikku berubah sampai seperti itu dan penyebab utamanya adalah pergaulan. Ia salah memilih teman.”
”Memang seusia adikmu adalah masa-masa transisi untuk menguatkan jati diri mereka. Kamu harus segera meluruskannya Zaen. Aku khawatir adikmu sudah terlalu lama sehingga membuatnya betah dengan pergaulannya yang sekarang ini.”
”Ya maka dari itu Mir, aku mencoba meluruskannya. Aku sudah beberapa kali mengajaknya mengaji kerumah ustadzku di Magelang tapi cuma berhasil dua kali, selebihnya ia menolak. Banyak alasan ini itu.”
”Jangan pernah menyerah Zaen. Aku ikut mendoakan semoga adikmu berubah seperti dulu lagi.”
”Amiin. Aku juga merindukan Zaadid yang dulu. Sewaktu di madrasah tsanawiyyah ia selalu berprestasi. Raportnya tidak kurang dari ranking 1 sampai 3. Sikapnya juga santun. Berbakti. Sering membantu kedua orangtuaku bekerja menggarap kebun orang tapi sekarang...”
Zaen merasakan matanya mulai memanas. Airmatanya sudah mendidih dan siap tumpah membasahi kedua belah pipinya. Zaen mencoba menahannya.
”Kalau kamu ingin menangis, menangis saja Zaen. Jangan kau tahan-tahan. Itu tidak baik.”
Zaen memejamkan matanya dan merasakan butiran airmatanya mulai tumpah. Pelan. Dan ia merasa jauh lebih lega karena sudah berbagi dengan Mirza. Zaen menyeka airmatanta kemudian menghela nafas panjang.
”Thanks Mir, kau sudah mau mendengar ceritaku. Aku jauh lebih merasa lega.”
”Sama-sama Mir. Kita ini kan teman. Sudah seperti keluarga malah. Sudah seharusnya kita saling berbagi rasa.”
Zaen ikut tersenyum mendengarnya.
”Semua butuh proses dan aku percaya kamu sekeluarga mampu melewatinya. Insya Allah.”
Sekali lagi Zaen mengucapkan syukur karena memiliki teman satu flat yang sedemikian perhatian dengannya. Mereka bukan lagi hanya sekadar seperti teman satu flat, tetapi juga seperti satu keluarga yang saling mendukung, menguatkan satu dengan yang lainnya. Ia kembali teringat ketika waktu-waktu pertama ia mulai belajar beradaptasi dengan kondisi di Brisbane. Banyak hal yang ia pelajari melalui Faisal dan Mirza yang sudah lebih dulu menetap di Brisbane dibanding dirinya dan Salim.
Hidup di negeri orang khususnya di Brisbane ini bukan hanya sebatas iklim yang harus di adaptasikan. Hidup di negeri orang akan menjadi pengalaman hidup yang berharga yang bisa di bagi ke anak-cucu kelak.
Disini, Zaen tidak hanya harus beradaptasi dengan iklim tapi ia juga banyak mengalami keterkejutan budaya (culture shock) dan itu merupakan pengalaman baginya yang harus bisa ia sikapi dengan sebaik mungkin, kalau tidak? Ah, ia tidak bisa membayangkan lebih. Bisa-bisa ia terjerumus kedalam arus pergaulan bebas ala barat. Na’udzubillah mindzalik!
Zaen juga mensyukuri ketika mengingat waktu yang bergulir di Indonesia tidak mengalami banyak pergeseran. Tidak seperti disini.
Ya, beruntung sekali Indonesia yang beriklim tropis, sepanjang tahun waktu siang dan malam kurang lebih sama. Sehingga agenda keseharian pun bisa tersusun dengan rapih, seperti misalnya waktu untuk shalat wajib. Sedangkan di Brisbane, waktu berubah-ubah tergantung musim. Seperti halnya yang terjadi pada seperti sekarang ini, ketika waktu telah memasuki musim dingin, siang hari akan terasa lebih pendek dibandingkan malam hari. Waktu shalat Shubuh sekitar pukul lima pagi, sedangkan shalat Maghrib bisa sekitar pukul lima sore. Lebih awal di bandingkan di Indonesia yang sekitar pukul enam sore. Pengadaptasian waktu seperti ini terasa aneh bagi Zaen. Meskipun begitu, ia terus berusaha untuk membuat dirinya terbiasa dengan kondisi seperti ini. Dimanapun bumi di pijak, disanalah bumi Allah tempat kita mengabdi dan bertunduk serah padaNya. Shalat wajib harus tetap ditunaikan meski waktu berganti tak seperti biasanya.
Brisbane merupakan kota di bagian utara Australia, dan karena itu juga hawa musimnya tidak seekstrim kota-kota lainnya yang berada di bagian selatan Australia. Namun tetap saja, bagi Zaen yang terbiasa dengan iklim Indonesia, ukuran suhu pada pagi dan malam hari di sini yang bisa jatuh hingga tujuh derajat Celcius tetap berhasil membuatnya selalu meringkuk dengan jaket tebal ataupun selimut. Namun tidak untuk siang harinya. Pada musim dingin, matahari siang tetap terasa hangat. Jarang sekali Zaen menemukan orang-orang beraktifitas di siang hari menggunakan pakaian hangat ataupun jaket tebal. Mereka tetap berpakaian seperti biasanya.
Zaen teringat dengan pesan Ibunya, ”Kamu harus wanti-wanti di negeri orang. Terutama makanannya! Tanya-tanya dulu, halal atau tidak. Jangan asal makan ya.”
”Apapun yang masuk kedalam perut, halal atau haram, itu akan menentukan kualitas diri dan ibadah seseorang. Jangan sampai kamu lupa ya!” tambah bapak.
Salah satu hal yang di khawatirkan sejak awal oleh kedua orangtuanya memang masalah kehalalan makanan. Pak Zuheid memang mendidik keluarganya untuk senantiasa bersikap wara’ terhadap segala sesuatu yang mereka konsumsi. Baginya, kehalalan sesuatu yang masuk ketubuh mereka adalah pangkal keberkahan dari hidup seseorang. Percuma saja jika hidup enak tetapi tidak mendapatkan keberkahan hanya karena ketidakhalalan sesuatu yang di konsumsi. Baik itu makanan, ataupun yang lainnya. Zaen tidak ingin hanya karena ia tidak bersikap wara’ terhadap makanan yang ia makan selama menempuh study disini, semua ilmu yang pelajari di kampus St.lucia keberkahannya menjadi berkurang bahkan yang paling mengerikan jika sampai menghilang. Itu sama saja sia-sia semua perjuangan dan pengorbanannya selama ini. Zaen tidak ingin itu terjadi.
”Lebih baik hidup apa adanya, menderita, daripada harus hidup maksa dengan menghalalkan segala cara supaya bisa hidup enak. Sekalipun itu harus makan dengan jagung atau nasi aking, itu lebih baik daripada makan dengan nasi tapi berasnya hasil dari mengemis atau mencuri. Lihat saja hidup para koruptur itu, mereka tidak ada yang hidup enak. Uang mereka mungkin berlimpah, tapi mereka tidak memiliki kenyamanan sama sekali. Hari-harinya selalu gelisah. Diliputi rasa takut kalau sewaktu-waktu kejahatannya terbongkar. Hidup dengan keridhoan Allah, itu sudah jauh lebih dari cukup,” pesan Pak Zuheid pada anak-anaknya.
Zaen memang merasakan betul apa yang bapaknya pesankan waktu itu. Selama ini memang ia tidak merasakan kekurangan sesuatu apapun. Alhamdulillah. Hari-hari memang selalu ia lalui dengan rasa syukur yang mendalam. Apa yang ada dihadapannya pada hari itu, ya itulah rezeki yang Allah berikan padanya pada hari itu dan tidak ada yang harus ia lakukan selain menikmati dan mensyukurinya.
Seperti halnya sekarang ini ketika ia dan tiga orang teman satu flat dengannya seiya sekata untuk masalah makanan. Tidak ada yang rewel untuk masalah itu. Mereka menikmati apa yang bisa mereka makan disetiap harinya dan untuk menjaga kehalalan makanan setiap harinya, mereka memilih untuk memasak sendiri. Mereka menyediakan waktu beberapa hari dalam sepekan untuk berbelanja bahan-bahan sayuran, bumbu, dan sebagainya. Semua sudah terjadwal rapih dalam jadwal piket yang telah mereka sepakati bersama. Salim, pemuda asal Kediri lah yang menjadi juru dapur. Ia yang paling hafal berbagai macam resep masakan khas Indonesia. Maklum, orangtuanya adalah salah satu pengusaha besar restoran makananan yang ada di Kudus.
Zaen juga mulai belajar sedikit demi sedikit menyesuaikan dengan menu-menu yang dihidangkan. Hampir setiap menu masakan yang mereka santap selalu daging, daging, dan daging. Karena memang, selain karena kebiasaan disini yang cenderung lebih banyak mengkonsumsi daging, disamping itu harga daging di sini jauh lebih murah di bandingkan harga sayuran. Kontras. Berbanding terbalik dengan kondisi harga di Indonesia yang harganya selangit.
Terkadang baik Zaen maupun temannya yang lain dalam kondisi tertentu mengharuskan mereka makan diluar namun kekhawatiran masalah kehalalan tidak terlalu mebuat mereka risau. Alhamdulillah.
Mereka sudah mengetahui dimana-mana saja makanan halal bisa ditemui. Seperti misalnya di Main Refectory, sebagian besar makanan yang di jual disana sudah jelas kehalalannya. Pihak dari University of Queensland memberikan Handbook for Muslim Student, semacam buku panduan makanan-makanan halal dan itu sangatlah membantu. Di dalamnya tercantum daftar makanan yang sudah terkategori halal, restoran-restoran halal, bahkan sampai butcher daging halal. Untuk susu segar dan jus buah bisa di dapatkan dengan harga yang relatif murah.
Sejak menapakan kaki di tanah kangguru ini, Zaen sudah mulai membiasakan untuk bertransaksi dengan menggunakan Dollar Australia.
”Kalau kamu berbelanja sesuatu, jangan pernah sekali-kali mengkonversi harga-harga disini dengan rupiah ya Zaen,” tutur Faisal padanya dan Salim ketika masih hari-hari pertama tiba di Australia.
”Memangnya kenapa, Mas?” tanya Salim penasaran.
”Karena memang perbedaan biaya hidup di Indonesia dan Brisbane sedemikian jauh. Saat ini kurs AUD$1,00 setara dengan Rp 9.000,- dapat dibayangkan betapa mahalnya makan siang kita di kantin kampus seharga $3,80 per porsi,” jelas Faisal menambahkan. Zaen dan Salim pun saling berpandangan sambil mengernyitkan kening tak percaya.
”Kalau di Jakarta mungkin, kita bisa nambah beberapa piring ya?” timpal Mirza yang disusul dengan gelak tawa mereka bersama.
Dan salah satu yang terkadang menjadi kendala bagi mahasiswa pendatang adalah masalah kemampuan berbahasa, terutama ketika berbicara. Zaen merasakan hal itu. Meskipun ia telah menjalani pelatihan bahasa di Jakarta di kawasan Kuningan sebelum diberangkatkan ke Australia namun, masih belum mudah juga baginya untuk menyampaikan gagasan secara lancar dalam bahasa Inggris. Atau ketika mendengar orang Australia berbicara dengan intonasi yang cepat, apalagi dalam Australian English yang belum terlalu familiar. Semua memang benar-benar butuh penyesuaian. Sungguh.
Tetapi ada satu hal kesan positif yang sangat Zaen rasakan selama menempuh study di Australia. Bahkan ia selalu berujar kalimat tasbih dalam hati, ”Subhanallah,” ketika kerap kali telinganya mendengar orang Australia mengeluarkan kata dengan mudahnya seperti,
”Thank you,”
”Sorry,”
”Excuse me,”
”Please,”
Kata-kata yang mungkin juga langka meluncur dari mulutnya. Ia merasakan mendapat pelajaran baru dalam hidupnya. Kata-kata santun yang sederhana namun luarbiasa.
”Tinggal jauh dari keluarga, dari tanah air, akan membuatmu jauh banyak belajar, Zaen. Akan banyak hikmah yang bisa kamu gali disini,” ungkap Faisal padanya lepas shalat isya pertamanya di flat.
Ya, begitu banyak sekali segala yang ada di Brisbane ini yang bisa ia gali, namun ada hal-hal juga yang kerap membuat miris hati mengetahuinya seperti disini bisa dengan mudahnya menjumpai siapa saja dengan berbagai perilaku yang belum sesuai atau bahkan bertabrakan dengan nilai-nilai agama dan budaya di Indonesia.
”Dan kamu juga harus siap, pergaulan disini luar biasa beraninya. Bahkan lebih dahsyat daripada di kota-kota besar di Indonesia.”
Ya, para pemuda dan gadis-gadis memakai pakaian-pakian yang relatif terbuka, bahkan ada yang seperti tidak mengenakan pakaian sama sekali. Bukan hanya sekedar lekukan tubuh yang mereka bentuk, tapi kulit mulus mereka pun dengan santainya mereka jajakan kemana-mana. Bukan hanya itu, tidak sedikit pula yang sering menampakan kemesraan pacaran yang berlebihan, tidak malu-malu lagi mencumbu pasangan di tempat umum. Menghabiskan waktu akhir pekan dengan berbagai macam pesta, dan mabuk-mabukan.
Dan ada satu hal yang membuat bulu kuduk Zaen merinding ketika mendengarnya,
”Dan kamu juga jangan heran jika menemukan fenomena yang mengejutkan yang satu ini Zaen.”
”Apa itu, Mas?”
”Fenomena yang sangat umum terjadi di Australia dan negara-negara barat lainnya, yaitu pasangan yang tinggal bersama sebelum menikah dan melakukan hubungan seksual.”
Mata Zaen membulat. Bukan karena ia baru pertama kali itu mendengar kisah semacam itu, tapi ia benar-benar terkejut dengan hal-hal semacam itu. Akan di bawa kemana moral bangsa, jika generasi mudanya masih seperti itu?
”Innalillah,” ucap Zaen lirih.
”Bukan hanya itu juga, di sini sudah berita yang biasa di dengar kaum muda melakukan hubungan intim pada usia belasan tahun.”
”Naudzubillah! Sungguh memprihatinkan ya, Mas.”
”Ya begitulah,” sahut Faisal sambil bangkit melipat sajadahnya.
”Dan tugas kita masih banyak, Zaen,” tambahnya, ”Allah mengirimkan kita ke berbagai pelosok dunia bukan semata-maya hanya sekadar mencari ilmu, tapi Allah juga menginginkan kita menegakkan kalimatullah dimana bumi Allah kita pijak. Kita sebagai muslim yang baik, harus bisa menunjukan identitas kita sebagai seorang muslim sekalipun itu ketika berada di negara yang minoritas. Kita harus berupaya menciptakan lingkungan yang kondusif, selain untuk menjaga iman kita agar tetap dalam kondusi minimal stabil, upaya kita juga agar membuktikan bahwa islam adalah agama rahmatan lil alamin.”
Zaen yang kala itu masih dalam posisi duduk di atas sajadah birunya mendengarkannya dengan perhatian penuh.
”Jika ada pepatah lama mengatakan, 'dimana bumi di pijak, disitulah langit di junjung!' maka, untuk muslim yang baik, 'dimana bumi di pijak, disitulah kebaikan disebarkan!'”
Hati Zaen bergetar hebat mengingat obrolannya dengan Faisal lepas shalat isya malam itu.
Setibanya di negeri kangguru ini beberapa waktu yang lalu, Zaen begitu merindukan alunan suara adzan yang saling bertalu-talu dari satu masjid ke masjid di kampungnya dan hal itu tidak ia temukan disini.
Lagi-lagi hati Zaen membanding-bandingkan kondisi Indonesia dengan Australia. Di Indonesia, hampir di seluruh penjuru kota kita bisa dengan mudahnya mendengar suara adzan disetiap waktunya sebagai pengingat waktu shalat. Bahkan masjid atau mushala pun dapat dengan mudahnya ditemui di sepanjang jalan raya, perkantoran, mall-mall pusat perbelanjaan, sampai pom bensin pun juga memiliki mushala yang menjadi salah satu fasilitas yang wajib yang harus ada. Bukan lagi hanya sebagai pelengkap. Namun disini, pengeras suara adzan hanya untuk di dalam masjid saja, sehingga suara adzan pun seakan menjadi suara yang langka untuk bisa di dengar.
Beruntung di salah satu sudut kampus UQ St Lucia tempat Zaen dan teman satu flatnya menimba ilmu, memiliki sebuah bangunan sederhana semacam rumah satu lantai yang biasa di gunakan sebagai mushalla namun sayangnya, Zaen maupun teman-temannya tidak bisa sering-sering melakukan shalat berjama'ah disana karena jaraknya yang cukup jauh. Selain itu, ruangannya pun terbatas. Bahkan untuk shalat Jum'at, dilaksanakan di salah satu gedung universitas.
Zaen mulai merasakan getaran-getaran rindu yang mengepung perasaannya. Gejala-gejala itu mulai muncul, homesickness.
Zaen mengambil bingkai foto yang ia simpan dibalik bantal. Ia pun mulai merebahkan kepalanya. Ia pandangi wajah-wajah yang ada dalam foto itu. Hatinya terasa perih. Perih karena rindu yang mulai menyayat-nyayat perasaannya.
Ia pun mulai perlahan memejamkan matanya yang basah dipenuhi airmata. Zaen tertidur. Bermimpi indah, bertemu keluarga yang dicintainya. Melihat wajah Ibu, Bapak, kedua adiknya, dan setelah itu muncul wajah seorang gadis yang dicintainya. Gadis pemilik mata indah dan wajah bersinar seperti tertimpa sinar bulan purnama. Zaen bermimpi mengarungi pada rumput yang hijau segar dengan mereka. Zaen mengandeng gadis itu mesra dan penuh cinta. Gadis itu pun nampak bahagia.
***
Ini bagian dr novel ya? :) Jd ingat temen yg lg S3 di Canberra, penulis jg dia, aktivis FLP dr awal kuliah dulu (kk tingkat) berkisah satu botol 1,5lt air mineral jk dirupiahkan Rp. 30.000 ke atas.
BalasHapusCeritanya cukup membawa suasana Brisbane :) Iri dg semangat menulisnya hehe..