Sumpah gue nggak tahu harus bilang kayak gimana, yang jelas malam ini perasaan gue campur aduk. Ada perasaan bahagia, terkejut, sekaligus dilema!
Gue bahagia banget ngelihat foto-foto terbaru pacar gue di FB, dia kelihatan jauh lebih berisi. Sempat gue komentar ke dia via BBM beberapa waktu lalu.
Gue bilang, "Sayang, kamu makin berisi deh semenjak dinas disana?"
"Iya sayang, kalau disini nggak banyak-banyak makan, jaga stamina, bisa-bisa kena sakit malaria," balasnya.
at least gue senang banget melihat kondisi pacar gue baik-baik aja disana dengan kondisi badan yang sehat. Dia jauh kelihatan lebih tampan dan Ahhh... rrrrrr banget deh! Hihihi...
Dan gara-gara gue lihat foto-foto terbaru dia, gue jadi bener-bener kangen banget sama dia nih :'(
Pengen banget dia balik ke Jakarta...ada disamping gue...meluk gue, dan belai-belai rambut gue lagi sampai gue tidur. Ughh... miss you honey!
Eits.. eh eh tapi, kalau pacar gue ada di Jakarta, apakah mungkin gue masih bisa memiliki rasa yang sama dengan dia?
Ya, Dia...
Dia orang yang baru gue kenal sekitar beberapa bulan yang lalu, tapi resmi kenal bener-bener kenalan itu.. hmm, kurang lebih sekitar dua minggu yang lalu.
Sebenarnya sudah sejak lama banget gue merhatiin dia. Mungkin tekhnisnya bagaimana, cuma dinding-dinding cafe cangkir yang bisa menceritakannya. ^_^"
Gue pertama kali lihat dia itu ya di cafe cangkir, dan gue shock banget ketika Tuhan memberikan gue kesempatan untuk bisa kenalan dengannya. Ternyata dia adalah temennya dari temen gue yang namanya Nuri.
Hematnya gue banyak tanya ke Nuri soal dia. Dan sampailah di hari kamis, dua minggu yang lalu... gue kenal sama dia.
Namanya Dira. Dia adalah cowok yang selama ini mencuri perhatian gue. Entah kenapa gue bisa tertarik sama dia, mungkin bisa jadi karena fisiknya yang type gue banget ; Chubby :) NOT FAT yaa ;)
Dua hari sebelum kenalan sama Dira, gue udah sempat ke pergok sama dia lagi curi-curi pandang ke dia. Gue inget banget, hari itu hari selasa, dan saat itu hujan deras.
Dira sama temen-temennya ngobrol di meja dekat tirai, dan sedangkan gue duduk bersebrangan sama dia hanya berselisih dua meja.
Gue kepergok lagi CCP ke dia dan sontak gue teriak dalam hati, "DAMN Ketahuan lagi!" Tapi setelah itu gue tetap cuek bebek. Gue mengalihkan pandangan ke laptop di depan gue. Gue lanjut ngetik sambil curi-curi pandang ke dia. End, dia pun juga beberapa kali membalas lirikkan mata gue yang diam-diam itu.
Oh GOD...
Huh hah huh haaaah...
Dag Dig Dug...
begitulah yang gue rasakan setiap kali melihat lirikan matanya. Aaahhh... Dan sejak perkenalan hari kamis itu sampai hari ini, sedikitpun rasa itu nggak berkurang.
GILA! ini bener-bener gila...
Gue sempat bingung awalnya sama perasaan gue sendiri ke dia, beberapa kali curhat ke sahabat gue Lala untuk memastikan bahwa gue cinta sama dia atau nggak, sampai akhirnya gue menemukan jawaban bahwa gue CINTA SAMA DIA, walaupun gue tahu, dia sudah punya pacar dan gue pun sama.
Ah ini bener-bener gila...
Gue nggak tahu kenapa rasa cinta ini bisa muncul, mungkinkah karena gue sudah hampir 1/2 tahun LDR-an sama pacar gue atau mungkin karena faktor yang lain?
Ya kalau boleh jujur, memang pada dasarnya gue type orang yang nggak bisa LDR-an, karena hal itu bagi gue sangat menyiksa.
Gue udah pernah bilang sama pacar gue di awal-awal kita pacaran sekitar dua tahun yang lalu, bahwa gue type orang yang nggak bisa jauh dari pacar. Bukan berarti pacar gue harus ada 24 jam buat gue. Gue sadar bahwa pacar gue juga punya kehidupannya yang lain, gue pun sama, dan kita sama-sama menyadari akan hal itu.
Di saat-saat pertama menjelang keberangkatan pacar gue Dinas di ujung timur Indonesia sana, gue sempat ragu untuk menjalani hubungan Cinta jarak jauh ini. Tapi, pacar gue meyakinkan gue, bahwa ini adalah ujian untuk hubungan kami. Dia menyebutnya, kesetiaan cinta.
Tapi kenyataannya, semenjak dia pergi, ada cinta yang lain yang menyusup ke dalam hati gue pelan-pelan dan itu Dira.
Sampai detik ini gue masih belum menunjukan reaksi apa-apa ke Dira kalau gue suka sama dia. Kalau gue cinta sama dia, dan gue ingin memilikinya. Karena bagi gue, cinta itu HARUS memiliki. Kalau tidak, itu hanya sekedar perasaan kagum.
Saat ini perasaan gue sedang dilematis abiiiisss....
Gue nggak tahu, bagaimana seharusnya sikap gue ke Dira? Kalau gue anggap biasa-biasa aja, berarti gue mendustai hati gue yang beneran jatuh cinta ke dia. Tapi, kalau gue benar-benar sampai ada something dengan Dira.... bagaimana dengan pacar gue? bagaimana dengan pacarnya Dira juga? :'(
Oh Tuhaaaaaan....
Mungkinkah gue harus menjalani cinta diam-diam dengan Dira?
Oh GOD... gue benar-benar bingung!
Tok...Tok...Tokk...
Pintu kamar Maria terketuk pelan.
"Mariaa..." panggil Mama dari balik pintu kamar.
"Ya Maa, ada apa?" sahut Maria sambil membuka pintu kamar.
"Ada tamu buat kamu di bawah,"
"Siapa Ma?"
"Katanya temen kampus kamu,"
"Siapa? Ijan?"
"Bukan. Mama juga baru lihat sekarang."
"Tanya dulu Ma, namanya siapa... aku lagi ngetik naskah nih! Udah deadline banget."
"Tuh kan, kamu itu kebiasaan kalau sudah nulis, jadi lupa waktu deh! Sudah tinggal bentar kerjaannya. Temui teman kamu dulu dibawah sebentar."
Dengan langkah berat, Maria akhirnya mengikuti saran Mama untuk menemui tamu. Maria menuruni anak tangga demi anak tangga dari kamarnya di lantai dua. Dan ketika sampai di ruang tamu, matanya terbelalak hebat melihat siapa yang ada disana, tamu yang tak di undangnya dan tak di duga sebelumnya...
"Kamu...." kata Maria lirih.
"Hi Mar, apakabarnya?" ujar tamu itu menyapa Maria sambil berdiri dari posisi duduknya.
"Hm, ba...baa..baiiikk..." sahut Maria pelan. Matanya berbinar. Pipinya memerah.
"Sorry, aku ganggu kamu nggak malam-malam begini mampir kesini."
"Eeng.. ng.. Eh.. nggak kok! nggak ganggu sama sekali. Ayo silahhkan duduk!" lanjut Maria dengan kikuk.
Maria menunduk. Merapatkan dagunya ke dada, seakan-akan ia ingin mendengar dengan lebih jelas degup jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Ingin rasanya ia berlari keluar, lantas terbang ke langit malam, menari bersama bintang-bintang dan bulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar