Aku sering sekali mendapati kasus-kasus kenakalan remaja yang beragam. Terlebih sejak aku memutuskan untuk menjadi seorang guru di sekolah ini. Aku bekerja sebagai guru konseling sekaligus merangkap guru sejarah menggantikan Pak Agus yang baru saja almarhum sekitar dua bulan yang lalu.
Usiaku di sekolah ini memang tergolong cukup muda, baru dua bulan. Aku masih membutuhkan banyak pengadaptasian disana sini. Tapi meskipun begitu, aku bersyukur tidak mengalami kesulitan untuk mengajar anak-anak muridku. Mereka anak-anak yang cukup mudah untuk diatur, tapi tidak untuk bocah lelaki yang satu ini.
Lelaki ini adalah jagoan kecil yang baru aku kenal beberapa waktu lalu. Dia masih belum bisa berpikir panjang. Ia masih muda. Masa depannya masih jauh didepan sana, tapi hidupnya sudah sedemikian parah, rumit, dan memilukan.
“Kenapa kamu berkelahi lagi? Kamu tahu, tindakan kamu tadi itu hampir menghilangkan nyawa teman kamu.”
“Saya hanya membela diri pak!”
“Membela diri bagaimana? Jelas-jelas semua saksi di kantin tadi mengatakan kamu yang menyerang Aldo duluan.”
“Terserah bapak saja, mau mempercayai saya, atau dia. Kalau seandainya bapak menjadi saya, saya yakin, bapak akan melakukan yang sama. Apakah bapak akan diam saja, sedangkan harga diri bapak diinjak-injak dan ditertawakan, dijadikan bahan olok-olokan?”
“Saya akan mendo’akan mereka. Supaya Tuhan memberikan kesadaran kepada mereka.”
“Apakah bapak pikir dengan do’a saja cukup untuk merubah prilaku seseorang?"
Aku harus sabar. Ya, sabar! Aku ingat apa yang pernah Bu Farida katakan. Menghadapi anak yang satu ini memang harus ekstra sabar. Jangan sampai terpancing emosi. Kita ini pendidik. Bukan hakim, apalagi algojo.
Aku harus sabar. Ya, sabar! Aku ingat apa yang pernah Bu Farida katakan. Menghadapi anak yang satu ini memang harus ekstra sabar. Jangan sampai terpancing emosi. Kita ini pendidik. Bukan hakim, apalagi algojo.
“Isi form perjanjian ini,” kataku sambil memberikan map berwarna merah.
Ia menerima map itu dan langsung mengisinya.
“O ya, saya dengar kamu sekarang bekerja part time, benar?”
“Iya,” sahutnya singkat sambil terus menulis.
“Lalu waktu belajar kamu bagaimana?”
“Itu bisa disiasati.”
“Mungkin itu yang menyebabkan kamu akhir-akhir ini jadi sering terlambat datang ke sekolah?”
“Mungkin.”
“Guru-guru banyak yang khawatir dengan perubahanmu ini.”
“Terimakasih,” Ucapnya dingin.
“Orangtua kamu tahu kalau kamu bekerja part time?”
“Orangtua saya tidak tahu Pak.”
“Kenapa?”
“Ya karena saya tidak tahu harus memberi tahukan mereka kemana.” Jawabnya sambil memberikan form perjanjian yang sudah diisinya.
“Maksud kamu…”
“Saya tidak mengenal orangtua saya dengan baik.”
“Orangtuamu sudah meninggal sejak kamu kecil?”
“Mungkin.”
“Mungkin?”
“Saya tidak tahu Pak! Saya tidak tahu apakah kedua orangtua saya masih hidup atau sudah meninggal. Dan saya tidak pernah mau mencari tahunya,” Terangnya dengan sinar mata yang menyala-nyala. Ada bara yang begitu panas yang aku lihat disana.
“Lagipula untuk apa saya mencari tahu tentang mereka. Mereka saja tidak pernah mencari saya. Saya rasa ini cukup adil. Mungkin mereka pikir saya ini binatang, anjing buduk yang bisa ditendang, dibuang begitu saja!” tambahnya keras.
Aku terkejut mendengarnya, “Hush! Maksud kamu apa bicara seperti itu? Hati-hati dengan ucapanmu itu!”
“Saya hanya mengungkap realita saja pak dan saya pikir, bapak jauh lebih mengerti dan bisa menerangkan kepada diri bapak sendiri maksud dari ucapan saya barusan.”
Sekarang aku bisa sedikit memahami, mengapa etika anak ini sampai begini. Ternyata ia kehilangan satu masa yang indah. Masa-masa bersama orangtua. Ia tidak merasakannya. Wajar saja.
“Ada lagi yang ingin dibicarakan pak?”
Lelaki muda ini memang batu. Aku sudah mendengar semua ceritanya dari guru-guru yang lain. Pada dasarnya dia anak yang cerdas dan kreatif, namun entah mengapa beberapa waktu belakangan ini ia menjadi begitu pemurung.
Aku sendiri tidak bisa berkata banyak untuk menanggapi masalah yang dihadapinya. Hanya kalimat ini yang baru bisa aku katakan padanya, “Kamu harus bisa merubah pola hidup kamu seperti dulu lagi. Apa yang kamu jalani saat ini. Kamu sudah tidak seperti yang dulu lagi.”
“Bagaimana bapak bisa tahu kalau saya bukan yang dulu lagi, sedangkan bapak saja baru mengajar disini.”
“Saya tahu lebih dari apa yang kamu tahu.”
Bocah ini mengerutkan dahinya. Ia nampak kebingungan.
“Saya memahami akan hal itu. Semua saran yang saya berikan itu juga demi kebaikan kamu. Tapi, saya tidak bisa memaksakannya. Semua keputusan akhir, ada ditangan kamu. Berubah adalah pilihan.”
“Apa tidak ada pilihan yang lain?”
“Tidak!” sahutku mantap.
Aku pikir cara yang terbaik untuk menanggapi lelaki muda yang satu ini memang ketegasan. Tidak ada opsi lain yang bisa aku berikan selain itu.
“Ya sudah, sebaiknya kamu sekarang balik lagi ke kelas. Saya tidak ingin lagi mendengar kasus dari kamu lagi berkelahi dengan teman, terlambat datang ke sekolah, atau tidur dikelas.”
“Ya sudah, sebaiknya kamu sekarang balik lagi ke kelas. Saya tidak ingin lagi mendengar kasus dari kamu lagi berkelahi dengan teman, terlambat datang ke sekolah, atau tidur dikelas.”
“Baik Pak!” sahutnya lemah.
Ia bangkit dan hendak balik ke kelas, tetapi sebelum ia benar-benar membuka pintu. Aku memanggilnya kembali, “Denish!”
Ia membalikan badannya. “Ya?”
“Kamu itu siswa yang cerdas. Jika kamu sudah tidak lagi memperdulikan bagaimana perasaan orangtuamu ke kamu, tolong. Minimal, jaga perasaan guru-guru yang menyayangi kamu. Jangan kecewakan saya. Saya menaruh harapan besar ke kamu. Saya menantikan Denish yang dulu!”
Ia hanya tersenyum tipis dan langsung menghilang dibalik pintu. Aku menghela nafas panjang,
“Denish, adikku…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar