Lihat, Baca, Dan Resapi!
Aku hanyalah manusia biasa yang ingin bercerita...

Edisi

Total Tayangan Halaman

Jumat, 27 Januari 2012

HARI INI SEMINGGU YANG LALU

Hari ini seminggu yang lalu...
Aku bertemu dengannya di Mc.D Sekbil dengan sebab, aku ingin meminjamkannya sebuah buku bagus dan inpiratif.

Hari ini seminggu yang lalu...
Aku dibuat sibuk dengan memilih baju yang bagus-bagus, dan menyiapkan diri dengan sesempurna mungkin untuk bertemu dengannya. 

Aku juga sempat dilanda gugup, dan salah tingkah saat menunggu kedatangannya yang telat lima menit dari waktu yang sudah disepakati sebelumnya. 

BBM itu masuk, 

"Aku sudah di depan Mc.D nih, kamu dimana?"

Secepat kilat jemariku menekan tuts Qwerty, "Aku di lantai dua."

"Kamu nggak turun aja?"

"Yaaaah, masa aku turun :'( .. hiks!"

"Ya udah, aku naik ke atas ya, tapi aku nggak bisa lama."

"Okay :) .."

Sesekali aku bercermin pada layar notebook didepanku. Membenarkan tampilanku supaya nampak sempurna dihadapannya. Aku tersenyum-senyum sendiri melihat bayanganku dikaca. Aku bahagia.

Tidak beberapa kemudian dia datang. Dengan jaket cokelat dan jeans blue denim, ia berjalan ke arahku sambil melempar senyum mematikan. Mematahkan logikaku. Rasa-rasanya ku dimabuk kepayang karenanya.

"Hai, sudah nunggu lama?"

"Nggak terlalu lama kok. Ya sekitar lima belas menit lah."

"Oh ya, mana bukunya?"

Aku langsung mengeluarkan 2 buah buku dari dalam tas yang ingin dipinjamnya. 

"Bagus ya?"

"Ya tentu dong. Kalau nggak bagus, mana mungkin aku beli dan aku baca."

Dia mengangguk-angguk sambil mengamati dua buku yang kini berada digenggamannya. Setelah mengamati buku itu baik-baik, ia menoleh ke arahku sambil melempar senyum lagi. Ah tidaaaaaak...

"Aku pinjam ya?"

"Sip! baca sampai kamu puas, baru dikembalikan ya."

"Okay."

"Semoga bermanfaat."

"Mudah-mudahan," sahutnya.

Aku menggoyang-goyangkan kakiku yang kaku. Ah beginilah kalau berhadapan dengan orang yang aku kagumi, rasa-rasanya aku ingin mati dalam pelukannya karena jantungku berdegup jauh lebih kencang dari biasanya. Alamaaaak...

"Oh iya, boleh aku tanya sesuatu?"

"Iya tentu saja boleh."

"Kenapa kamu meminjamkan buku ini padaku?"

"Hm, karena setelah aku habis membaca buku itu, aku jadi kepikiran kamu, dan merasa buku ini sepertinya cocok untuk kamu baca," terangku jujur padanya.

"O begitu," sahutnya mengangguk-angguk. 

"Hm, lalu kenapa yang pertama terlintas dalam pikiranmu itu aku?"

Karena aku mencintaimu....

Ah, tidak... tidak mungkin aku menjawab demikian. Bisa-bisa aku mati ditempat gara-gara ucapanku sendiri. Aku belum siap untuk itu. Belum siap, jika seandainya ia malah terbengong-bengong mendengar perkataanku, kemudian menolakku dengan halus. Ah tidaaaaak... aku belum siap untuk penolakan itu. Sebaiknya, rasa ini biar kupendam sendiri. Ia tidak perlu mengetahuinya. Ya setidaknya, untuk saat ini. Aku masih butuh waktu untuk semua itu. Entahlah sampai kapan.

"Tidak perlu banyak tanya 'kenapa?' sudahlah, dibaca saja," jawabku sekenanya saja.

"Baiklah, kalau begitu aku akan membacanya. Terimakasih ya."

"Ya, sama-sama."
Dia kembali tersenyum sambil memanahkan tatapan mata lurus ke arahku. Aaaah, tepat sekali. Ya, tatapan mata itu tepat menghujam jantungku. Ada gemuruh yang begitu dahsyat didalam hatiku. Aku pun bertanya-tanya, gemuruh apakah ini? 

"Aku masih tidak habis pikir. Kita baru kenal beberapa waktu yang lalu. Belum ada setahun, tapi kamu sudah baik padaku."

"Aku hanya mencoba menjadi seorang teman yang baik. Aku ingin melihatmu bahagia, tersenyum, dan menjadi orang sukses. Semua itu akan menjadi kebahagiaan tersendiri dalam hidupku, jika kamu mencapai semua itu."

"Kenapa kamu ingin melihatku sukses?"

"Karena aku mencintaimu... Karena aku temanmu! aku tidak ingin mencapai kesuksesan itu sendiri. Aku ingin temanku bisa mencapai kesuksesan dalam hidupnya, Terutama kamu..."

"Wah, bersyukur sekali mempunyai seorang teman sepertimu. Terimakasih."

"Boleh aku minta tolong padamu?"

"Ya, tentu saja. Apa yang bisa kubantu?"

"Jangan pernah bertanya 'kenapa?' lagi padaku. Karena kamu sudah mendapatkan jawabannya: Karena aku temanmu."

"Baiklah."

"Dan satu lagi."

"Apa itu?"

"Jangan pernah lagi mengucapkan terimakasih padaku."

"Lho kok begitu, memangnya kenapa? apakah salah jika aku mengucapkan terimakasih padamu?"

"Tidak. sama sekali tidak salah."

"Lalu?"

"Karena kamu tidak perlu berterimakasih atas sesuatu yang sudah menjadi kewajibanku padamu."

Dia menyetujuinya, dan setelah itu...

Langit mulai memainkan warna indahnya. Biru cerah yang berubah menjadi merah keemasan menyulap waktu yang singkat menjadi terasa sangat panjang. Ia hanyut dalam obrolan asyik denganku seputar masa depan.

Seandainya saja masa depanku adalah kamu, pasti aku sangat bahagia dan bersyukur sekali... Ah seandainya saja...

"Oh God!" pekiknya sambil menepuk keningmu sendiri, "Aku harus segera pergi. Lima belas menit lagi, Diana sampai. Aku harus menjemputnya di BTC. Maaf ya, aku harus pergi. Nanti kita sambung lagi. Bye."

Aku belum sempat menjawab sepatah kata pun, dia langsung berlari menuruni anak tangga dan menjemput istri tercintanya.

Ah seandainya saja yang menjadi istrinya itu aku, mungkinkah ia akan tetap begitu? memposisikanku selalu di nomer satu. 

Ah seandainya saja.... hari ini adalah seminggu yang lalu, pastinya aku akan bahagia bisa menikmati secara diam-diam. Menyusuri setiap lekuk tubuh tegapmu, dan menyesapi setiap pori-pori menjadi hak milikku. 

Ah seandainya saja....

Senin, 23 Januari 2012

AKU LELAKI DAN AKU BERBEDA

Senja mulai memudar. Berganti malam dengan sedikit bintang berkilauan. Bulan purnama muncul, namun ia tak sempurna menampakan bentuknya. Ia terlihat lebih pucat dari biasanya.

Hufh, aku sedih melihatmu malam ini. Kau sepertinya tidak bergairah untuk menghiburku, atau mungkin kamu sudah jenuh? Oh kumohonlah, jangan sampai begitu. Hanya dirimu teman sejatiku. Tempatku bersembunyi dari siang yang penuh dengan kenyataan yang terang dan menerangkan bahwa hidupku tidaklah sama seperti orang-orang.

Aku lelaki, dan aku berbeda.  



Aku masih diam termangu di jendela kamar. Memandangi langit malam yang begitu hitam

Aku merasa senasib denganmu, malam. Kita sama-sama hitam. Bedanya, kau memiliki bulan dan bintang, sedangkan aku?

Hidupku berubah drastis saat aku mulai menapaki dunia baruku, dunia remaja. Entahlah siapa yang salah atas perubahan ini? Hanya saja ada satu yang aku ingat sampai saat ini dan tak mungkin kulupakan.

Malam itu lelaki dewasa yang sejak kecil aku panggil dengan sebutan ayah itu, tiba-tiba datang mendobrak pintu kemudian tanpa aku tahu pasti alasannya apa, ayah dan ibu bertengkar keras.

Ya, malam itu aku melihat ayah tak ubahnya seekor kucing yang tengah puas menerkam tikus kecil yang tak berdaya. Seperti seekor anjing gila yang terus menggonggong tak henti.

Malam itu, Ayah tak ubahnya seorang algojo yang menghakimi habis terdakwa. Entahlah apa salah ibu sampai-sampai mukanya habis babak belur tak sedikit pun luput dari tinju ayah.

Saat itu usiaku masih delapan tahun.  Aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa bersembunyi di balik pintu kamar sambil menggigil ketakutan. Sesekali aku memberanikan diri mengintip dengan penuh rasa ketakutan yang memburu. Pukulan demi pukulan Ibu terima. Aku hanya bisa mendengar sayup-sayup suara Ibu yang terus menangis, menjerit  sambil menahan rasa sakit yang bersarang disekujur tubuhnya, hingga tangisan Ibu tak terdengar lagi. Ternyata, Ibu jatuh pingsan.

Dan dengan begitu santainya, lelaki bangsat itu, ayah berlenggang pergi meninggalkan rumah dengan wajah puas dan menyeringai, persis seperti seekor singa yang kenyang setelah menelan habis mangsanya tak bersisa.
Ayah pergi membawa satu koper besar dan beberapa perhiasan Ibu didalam lemari.

Aku berlari keluar dan melemparkan asbak rokok berbentuk kuda yang terbuat dari besi ke kepalanya. Ayah menjerit kesakitan. Darah segar langsung mengalir dari kepalanya yang bocor. Membasahi kepala, leher, dan juga bajunya. Aku puas setelah melihat ia jatuh pingsan. Aku pun langsung berlari pulang.



Sejak malam itu, aku bersumpah aku tidak akan pernah tinggal diam jika melihat siapapun melukai ibuku, baik fisik maupun perasaannya. Ibu adalah segalanya buatku. Ia adalah satu-satunya anugerah terindah dari Tuhan yang pernah kumiliki.




Sejak malam itu juga aku bersumpah, bahwa tidak akan ada lagi laki-laki dalam hidupku yang bernama Ayah. Aku menganggap ayah sudah lama mati meninggalkan kami. Biarlah orang menilai apa dan bagaimana. Yang jelas, aku sudah sangat terluka melihat perlakuannya.

Dengan kepergiannya malam itu semakin melengkapi keganjilanku dan semakin memperjelas, bahwa aku lelaki dan aku berbeda.

Minggu, 22 Januari 2012

CERITA CINTA (yang tertinggal) DARI SMA

tanpa bermaksud untuk membuka kenangan lama, gue iseng cek-cek friend list di FB dan terlintas satu nama #R ... 
Ada sedikit rasa rindu dan ingin tahu, bagaimana ia sekarang?

Gue buka album fotonya satu per satu dan apa yang terjadi?

Kerinduan ini semakin meluap-luap. Setiap senti senyuman yang menghias diwajahnya meletupkan satu kenangan indah yang sudah tertinggal jauh dibelakang. 

Ya Tuhaaaaaan, Aku benar-benar merindukannya...

sempat terpikir untuk menemuinya lagi, tapi.... 

Sabtu, 21 Januari 2012

CERITA CINTA MALAM INI

Hal yang paling nggak enak gue lakukan adalah, lagi asik mandangin foto-foto di album FB nya, eh malah liat album yang isinya foto dia dan pacarnya. 

Huuufh!

Ya Tuhan,
Mau cemburu, tapi rasanya nggak wajar lah. Bagaimana pun juga, si X itu adalah pacarnya lebih dulu. Gue hanyalah pendatang baru. Cinta yang tersisipkan diantara kebahagiaan mereka berdua.  

Gue nggak boleh marah, ataupun cemburu melihat kemesraan mereka. Gue harus bisa terima, kalau gue hanyalah seseorang yang bisa mencintainya secara diam-diam. 




Jumat, 20 Januari 2012

CERITA CINTA KEMARIN

Bahagia sekaligus berbunga-bunga, itulah kondisi yang kurasakan kemarin. Ketika sebuah BBM masuk dari seseorang yang begitu aku kagumi dan cintai.

Hari senin itu, akan menjadi hari yang tak terlupakan bagiku. 5 Desember 2011. Ya, tanggal itulah pertama kali aku mengenalnya.

Aku yakin semua tidak terjadi secara kebetulan begitu saja. Dan itu adalah hadiah dari Tuhan atas semua tanya dalam hatiku tentang dirinya yang telah menyeret konsentrasiku jauh dari titik fokus.

Akhirnya aku mengenalnya setelah melewati waktu yang tidak sebentar, dan perjuangan yang tidak sedikit.
Aku begitu menikmati setiap detik yang ku habiskan untuk mengenalnya waktu itu. Berbagai macam cara pendekatan ku lakukan, untuk hanya sekedar bisa tahu, Siapa dia?

#D mengalihkan duniaku dalam sekejap.

#D membuatku selalu ingin tampil sempurna.

Wajar ku rasa jika aku merasa demikian. Karena, aku mencintainya...

Aku sangat menyukai bagaimana  cara ia memandang hidup dan masa depan. #D adalah seseorang yang begitu optimis dan visioner. Aku mencintainya...

Seperti sore kemarin.

"Nanti ketemuannya jam 5-an aja gimana? Ketemuan di Mc.D Bintaro Sekbil?"

Baru saja aku ingin berkata demikian di BBM. Eh ternyata #D sudah mengirimnya lebih dulu. Hal kecil itu membuatku semakin berbunga karena aku merasa ia tahu apa yang sedang aku pikirkan. Ah senangnya....

Jadilah sore kemarin kami bertemu. Dengan hati yang berdegup kencang aku menyambut kedatangannya.

Aaah, dia datang dengan melemparkan senyuman. Senyuman indahnya yang begitu mematikanku.

Melihat senyumannya aku seperti melayang-layang bahagia. Terbang jauh ke negeri di atas awan dan menabur benih bunga-bunga indah berwarna warni. Aaaahh.. aku pipiku merona hangat.

"Sorry, gue nggak bisa lama nih," katanya.

Sebenarnya sih kecewa, tapi aku tidak mau mencegahnya, "Oh, nggak apa-apa."

Eh, nyatanya tidak. Jujur, bukan aku yang mengulur waktu tapi dia. Dia bercerita banyak hal padaku. Cerita ini itu. Tentang dirinya. Tentang bisnis yang tengah digelutinya, and many more.

Rabu, 04 Januari 2012

THIS IS MY LIFE: aku ingin bahagia dan membahagiakan mereka!

Aku bahagia dengan apa yang kumiliki saat ini. Keluarga, teman, dan juga seseorang yang aku cintai, yang namanya masih kurahasiakan dalam hati.

Aku terus berusaha mensyukuri atas apa yang Allah berikan padaku setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik. Aku meyakini, bahwa setiap kejadian yang terjadi setiap detiknya merupakan scenario yang telah Allah gariskan untukku.

Setiap masalah, berbagai macam rasa; bahagia, sedih, ataupun kecewa, sudah menjadi bagian yang harus lalui.

Ketika aku merasakan bahagia, aku meyakini bahwa kebahagiaan itu akan segera berganti dengan sebuah ujian yang –mungkin- akan membuatku mengerutkan dahi yang menuntutku untuk berpikir keras, bagaimana menyelesaikannya?

Meskipun begitu, aku percaya dan yakin, aku mampu melewati ujian itu. Aku memilih tetap bahagia, dalam menyelesaikan masalah. Aku pun tersenyum bersama ujian-ujian hidup yang sedang hadapi.

Dengan berbagai keyakinanku itu, aku menikmati hidup.

Aku meyakini bahwa dengan menjalani hidup dengan penuh rasa syukur, sabar, ikhlas, dan terus member sesuatu yang bermanfaat kepada sesama, hidupku akan jauh lebih indah, bermakna, dan juga tenang.

Aku meyakini bahwa dengan menerima setiap keadaan oranglain dengan lapang dada akan membuat diri kita semakin bijak dan menerima, bahwa setiap makhluk yang Allah ciptakan itu memiliki perbedaan dan keunikannya masing-masing.

Aku selalu mencoba memposisikan diriku di posisi mereka. Bagaimana jika hal demikian terjadi padaku, apa yang aku inginkan dari sikap mereka? Tentu aku ingin sekali mereka menerimaku sebagai seorang manusia yang memiliki kekurangan.

Dengan memiliki pemikiran seperti itu, aku menjadi seseorang yang open minded. Aku tidak peduli siapa mereka, yang aku pikirkan hanya satu, apa yang bisa kuberikan dan lakukan untuk mereka?

Sekarang aku merasakan bahwa diriku bukanlah diriku yang dulu.

Aku tidak ingin mati dalam waktu. Karena aku tahu, waktu terus berputar dan aku harus berlarian mengejarnya. Aku tidak ingin tergilas olehnya.

Karena itu juga, aku berubah. Aku memiliki kehidupan yang tidak sama dengan kehidupanku yang dulu.

Saat ini, aku merasa jauh lebih menikmati hidup, karena aku tahu apa yang aku inginkan, kemana aku harus berlari, dan kapan aku harus berhenti beristirahat sejenak, yang kemudian kembali lagi berlari untuk mencapai impian yang aku inginkan.

Impianku tidak banyak, aku hanya ingin bahagia, dan membahagiakan semua orang yang mencintaiku.
Aku ingin ketika aku sudah tidak lagi bernyawa dan mereka menyebut atau mendengar namaku, mereka berkata, “Orang ini pernah ada, dan dia akan selalu ada di hati kita, selamanya.” 

Senin, 19 Desember 2011

CINTA DIAM DIAM

Sumpah gue nggak tahu harus bilang kayak gimana, yang jelas malam ini perasaan gue campur aduk. Ada perasaan bahagia, terkejut, sekaligus dilema!

Gue bahagia banget ngelihat foto-foto terbaru pacar gue di FB, dia kelihatan jauh lebih berisi. Sempat gue komentar ke dia via BBM beberapa waktu lalu.

Gue bilang, "Sayang, kamu makin berisi deh semenjak dinas disana?"

"Iya sayang, kalau disini nggak banyak-banyak makan, jaga stamina, bisa-bisa kena sakit malaria," balasnya.

at least gue senang banget melihat kondisi pacar gue baik-baik aja disana dengan kondisi badan yang sehat. Dia jauh kelihatan lebih tampan dan Ahhh... rrrrrr banget deh! Hihihi...

Dan gara-gara gue lihat foto-foto terbaru dia, gue jadi bener-bener kangen banget sama dia nih :'(
Pengen banget dia balik ke Jakarta...ada disamping gue...meluk gue, dan belai-belai rambut gue lagi sampai gue tidur. Ughh... miss you honey!

Eits.. eh eh tapi, kalau pacar gue ada di Jakarta, apakah mungkin gue masih bisa memiliki rasa yang sama dengan dia?

Ya, Dia...

Dia orang yang baru gue kenal sekitar beberapa bulan yang lalu, tapi resmi kenal bener-bener kenalan itu.. hmm, kurang lebih sekitar dua minggu yang lalu.

Sebenarnya sudah sejak lama banget gue merhatiin dia. Mungkin tekhnisnya bagaimana, cuma dinding-dinding cafe cangkir yang bisa menceritakannya. ^_^"

Gue pertama kali lihat dia itu ya di cafe cangkir, dan gue shock banget ketika Tuhan memberikan gue kesempatan untuk bisa kenalan dengannya. Ternyata dia adalah temennya dari temen gue yang namanya Nuri.

Hematnya gue banyak tanya ke Nuri soal dia. Dan sampailah di hari kamis, dua minggu yang lalu... gue kenal sama dia.

Namanya Dira. Dia adalah cowok yang selama ini mencuri perhatian gue. Entah kenapa gue bisa tertarik sama dia, mungkin bisa jadi karena fisiknya yang type gue banget ; Chubby :) NOT FAT yaa ;)

Dua hari sebelum kenalan sama Dira, gue udah sempat ke pergok sama dia lagi curi-curi pandang ke dia. Gue inget banget, hari itu hari selasa, dan saat itu hujan deras. 

Dira sama temen-temennya ngobrol di meja dekat tirai, dan sedangkan gue duduk bersebrangan sama dia hanya berselisih dua meja. 

Gue kepergok lagi CCP ke dia dan sontak gue teriak dalam hati, "DAMN Ketahuan lagi!" Tapi setelah itu gue tetap cuek bebek. Gue mengalihkan pandangan ke laptop di depan gue. Gue lanjut ngetik sambil curi-curi pandang ke dia. End, dia pun juga beberapa kali membalas lirikkan mata gue yang diam-diam itu.

Oh GOD...

Huh hah huh haaaah...

Dag Dig Dug...

begitulah yang gue rasakan setiap kali melihat lirikan matanya. Aaahhh... Dan sejak perkenalan hari kamis itu sampai hari ini, sedikitpun rasa itu nggak berkurang.

GILA! ini bener-bener gila...

Gue sempat bingung awalnya sama perasaan gue sendiri ke dia, beberapa kali curhat ke sahabat gue Lala untuk memastikan bahwa gue cinta sama dia atau nggak, sampai akhirnya gue menemukan jawaban bahwa gue CINTA SAMA DIA, walaupun gue tahu, dia sudah punya pacar dan gue pun sama.

Ah ini bener-bener gila...

Gue nggak tahu kenapa rasa cinta ini bisa muncul, mungkinkah karena gue sudah hampir 1/2 tahun LDR-an sama pacar gue atau mungkin karena faktor yang lain?

Ya kalau boleh jujur, memang pada dasarnya gue type orang yang nggak bisa LDR-an, karena hal itu bagi gue sangat menyiksa.

Gue udah pernah bilang sama pacar gue di awal-awal kita pacaran sekitar dua tahun yang lalu, bahwa gue type orang yang nggak bisa jauh dari pacar. Bukan berarti pacar gue harus ada 24 jam buat gue. Gue sadar bahwa pacar gue juga punya kehidupannya yang lain, gue pun sama, dan kita sama-sama menyadari akan hal itu.

Di saat-saat pertama menjelang keberangkatan pacar gue Dinas di ujung timur Indonesia sana, gue sempat ragu untuk menjalani hubungan Cinta jarak jauh ini. Tapi, pacar gue meyakinkan gue, bahwa ini adalah ujian untuk hubungan kami. Dia menyebutnya, kesetiaan cinta.

Tapi kenyataannya, semenjak dia pergi, ada cinta yang lain yang menyusup ke dalam hati gue pelan-pelan dan itu Dira.

Sampai detik ini gue masih belum menunjukan reaksi apa-apa ke Dira kalau gue suka sama dia. Kalau gue cinta sama dia, dan gue ingin memilikinya. Karena bagi gue, cinta itu HARUS memiliki. Kalau tidak, itu hanya sekedar perasaan kagum.

Saat ini perasaan gue sedang dilematis abiiiisss....
Gue nggak tahu, bagaimana seharusnya sikap gue ke Dira? Kalau gue anggap biasa-biasa aja, berarti gue mendustai hati gue yang beneran jatuh cinta ke dia. Tapi, kalau gue benar-benar sampai ada something dengan Dira.... bagaimana dengan pacar gue? bagaimana dengan pacarnya Dira juga? :'(

Oh Tuhaaaaaan....
Mungkinkah gue harus menjalani cinta diam-diam dengan Dira?

Oh GOD... gue benar-benar bingung!

Tok...Tok...Tokk...

Pintu kamar Maria terketuk pelan.

"Mariaa..." panggil Mama dari balik pintu kamar.

"Ya Maa, ada apa?" sahut Maria sambil membuka pintu kamar.

"Ada tamu buat kamu di bawah,"

"Siapa Ma?"

"Katanya temen kampus kamu,"

"Siapa? Ijan?"

"Bukan. Mama juga baru lihat sekarang."

"Tanya dulu Ma, namanya siapa... aku lagi ngetik naskah nih! Udah deadline banget."

"Tuh kan, kamu itu kebiasaan kalau sudah nulis, jadi lupa waktu deh! Sudah tinggal bentar kerjaannya. Temui teman kamu dulu dibawah sebentar."

Dengan langkah berat, Maria akhirnya mengikuti saran Mama untuk menemui tamu. Maria menuruni anak tangga demi anak tangga dari kamarnya di lantai dua. Dan ketika sampai di ruang tamu, matanya terbelalak hebat melihat siapa yang ada disana, tamu yang tak di undangnya dan tak di duga sebelumnya...

"Kamu...." kata Maria lirih.

"Hi Mar, apakabarnya?" ujar tamu itu menyapa Maria sambil berdiri dari posisi duduknya.

"Hm, ba...baa..baiiikk..." sahut Maria pelan. Matanya berbinar. Pipinya memerah.

"Sorry, aku ganggu kamu nggak malam-malam begini mampir kesini."

"Eeng.. ng.. Eh.. nggak kok! nggak ganggu sama sekali. Ayo silahhkan duduk!" lanjut Maria dengan kikuk.

Maria menunduk. Merapatkan dagunya ke dada, seakan-akan ia ingin mendengar dengan lebih jelas degup jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Ingin rasanya ia berlari keluar, lantas terbang ke langit malam, menari bersama bintang-bintang dan bulan.

Jumat, 16 Desember 2011

KEBAHAGIAAN ADALAH MASALAH KEPUTUSAN

Kebahagiaan adalah masalah keputusan.

Segera setelah anda putuskan untuk berbahagia, semua pikiran, perasaan, dan tindakan anda akan berfokus pada yang membahagiakan.
Maka tegaslah untuk memutuskan bahwa:
WAKTU TERBAIK UNTUK BERBAHAGIA ADALAH SEKARANG
TEMPAT TERBAIK UNTUK BERBAHAGIA ADALAH DI SINI
DAN CARA TERBAIK UNTUK BERBAHAGIA ADALAH MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN.

* Mario Teguh *

IRONIS

Ada begitu banyak keironisan dalam hidup yang aku temui di saat usiaku yang masih dini. Aku tidak tahu mengapa keironisan itu bisa terjadi. Padahal yang aku tahu, Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan sempurna, tanpa sedikitpun keganjilan.

Sungguh, keironisan-keironisan itu sempat menyedot seluruh konsentrasiku. Membuatku berpikir penuh, mengapa sampai demikian?

Jumat, 02 Desember 2011

ANOTHER LOVE - (Kisah Denish) #1

Aku sering sekali mendapati kasus-kasus kenakalan remaja yang beragam. Terlebih sejak aku memutuskan untuk menjadi seorang guru di sekolah ini. Aku bekerja sebagai guru konseling sekaligus merangkap guru sejarah menggantikan Pak Agus yang baru saja almarhum sekitar dua bulan yang lalu.
Usiaku di sekolah ini memang tergolong cukup muda, baru dua bulan. Aku masih membutuhkan banyak pengadaptasian disana sini. Tapi meskipun begitu, aku bersyukur tidak mengalami kesulitan untuk mengajar anak-anak muridku. Mereka anak-anak yang cukup mudah untuk diatur, tapi tidak untuk bocah lelaki yang satu ini.
Lelaki ini adalah jagoan kecil yang baru aku kenal beberapa waktu lalu. Dia masih belum bisa berpikir panjang. Ia masih muda. Masa depannya masih jauh didepan sana, tapi hidupnya sudah sedemikian parah, rumit, dan memilukan.
“Kenapa kamu berkelahi lagi? Kamu tahu, tindakan kamu tadi itu hampir menghilangkan nyawa teman kamu.”
“Saya hanya membela diri pak!”
“Membela diri bagaimana? Jelas-jelas semua saksi di kantin tadi mengatakan kamu yang menyerang Aldo duluan.”
“Terserah bapak saja, mau mempercayai saya, atau dia. Kalau seandainya bapak menjadi saya, saya yakin, bapak akan melakukan yang sama. Apakah bapak akan diam saja, sedangkan harga diri bapak diinjak-injak dan ditertawakan, dijadikan bahan olok-olokan?”
“Saya akan mendo’akan mereka. Supaya Tuhan memberikan kesadaran kepada mereka.”
“Apakah bapak pikir dengan do’a saja cukup untuk merubah prilaku seseorang?"

Aku harus sabar. Ya, sabar! Aku ingat apa yang pernah Bu Farida katakan. Menghadapi anak yang satu ini memang harus ekstra sabar. Jangan sampai terpancing emosi. Kita ini pendidik. Bukan hakim, apalagi algojo.
“Isi form perjanjian ini,” kataku sambil memberikan map berwarna merah.
Ia menerima map itu dan langsung mengisinya.
“O ya, saya dengar kamu sekarang bekerja part time, benar?”
“Iya,” sahutnya singkat sambil terus menulis.
“Lalu waktu belajar kamu bagaimana?”
“Itu bisa disiasati.”
“Mungkin itu yang menyebabkan kamu akhir-akhir ini jadi sering terlambat datang ke sekolah?”
“Mungkin.”
“Guru-guru banyak yang khawatir dengan perubahanmu ini.”
“Terimakasih,” Ucapnya dingin.
“Orangtua kamu tahu kalau kamu bekerja part time?”
“Orangtua saya tidak tahu Pak.”
“Kenapa?”
“Ya karena saya tidak tahu harus memberi tahukan mereka kemana.” Jawabnya sambil memberikan form perjanjian yang sudah diisinya.
“Maksud kamu…”
“Saya tidak mengenal orangtua saya dengan baik.”
“Orangtuamu sudah meninggal sejak kamu kecil?”
“Mungkin.”
“Mungkin?”
“Saya tidak tahu Pak! Saya tidak tahu apakah kedua orangtua saya masih hidup atau sudah meninggal. Dan saya tidak pernah mau mencari tahunya,” Terangnya dengan sinar mata yang menyala-nyala. Ada bara yang begitu panas yang aku lihat disana.
“Lagipula untuk apa saya mencari tahu tentang mereka. Mereka saja tidak pernah mencari saya. Saya rasa ini cukup adil. Mungkin mereka pikir saya ini binatang, anjing buduk yang bisa ditendang, dibuang begitu saja!” tambahnya keras.
Aku terkejut mendengarnya, “Hush! Maksud kamu apa bicara seperti itu? Hati-hati dengan ucapanmu itu!”
“Saya hanya mengungkap realita saja pak dan saya pikir, bapak jauh lebih mengerti dan bisa menerangkan kepada diri bapak sendiri maksud dari ucapan saya barusan.”
Sekarang aku bisa sedikit memahami, mengapa etika anak ini sampai begini. Ternyata ia kehilangan satu masa yang indah. Masa-masa bersama orangtua. Ia tidak merasakannya. Wajar saja.
“Ada lagi yang ingin dibicarakan pak?”
Lelaki muda ini memang batu. Aku sudah mendengar semua ceritanya dari guru-guru yang lain. Pada dasarnya dia anak yang cerdas dan kreatif, namun entah mengapa beberapa waktu belakangan ini ia menjadi begitu pemurung.
Aku sendiri tidak bisa berkata banyak untuk menanggapi masalah yang dihadapinya. Hanya kalimat ini yang baru bisa aku katakan padanya, “Kamu harus bisa merubah pola hidup kamu seperti dulu lagi. Apa yang kamu jalani saat ini. Kamu sudah tidak seperti yang dulu lagi.”
“Bagaimana bapak bisa tahu kalau saya bukan yang dulu lagi, sedangkan bapak saja baru mengajar disini.”
“Saya tahu lebih dari apa yang kamu tahu.”
Bocah ini mengerutkan dahinya. Ia nampak kebingungan.
“Saya memahami akan hal itu.  Semua saran yang saya berikan itu juga demi kebaikan kamu. Tapi, saya tidak bisa memaksakannya. Semua keputusan akhir, ada ditangan kamu. Berubah adalah pilihan.”
“Apa tidak ada pilihan yang lain?”
“Tidak!” sahutku mantap.
Aku pikir cara yang terbaik untuk menanggapi lelaki muda yang satu ini memang ketegasan. Tidak ada opsi lain yang bisa aku berikan selain itu.

“Ya sudah, sebaiknya kamu sekarang balik lagi ke kelas. Saya tidak ingin lagi mendengar kasus dari kamu lagi berkelahi dengan teman, terlambat datang ke sekolah, atau tidur dikelas.”
“Baik Pak!” sahutnya lemah.
Ia bangkit dan hendak balik ke kelas, tetapi sebelum ia benar-benar membuka pintu. Aku memanggilnya kembali, “Denish!”
Ia membalikan badannya. “Ya?”
“Kamu itu siswa yang cerdas. Jika kamu sudah tidak lagi memperdulikan bagaimana perasaan orangtuamu ke kamu, tolong. Minimal, jaga perasaan guru-guru yang menyayangi kamu. Jangan kecewakan saya. Saya menaruh harapan besar ke kamu. Saya menantikan Denish yang dulu!”
Ia hanya tersenyum tipis dan langsung menghilang dibalik pintu. Aku menghela nafas panjang,
Denish, adikku…”

Jumat, 16 September 2011

Mengejar Mimpi


Langit masih gelap. Bintang masih menggantung di langit hitam. Berkelap-kelip. Menggoda sang dewi malam yang belum juga beranjak dari singgasananya. Jam di atas meja itu bergetar dan memekik keras. Alarm yang sempat ia pasang sudah berbunyi dan berhasil membangunnya dari mimpi indahnya bertemu dengan keluarga yang dicintainya dan seorang gadis bermata indah. Mimpi itu terasa begitu nyata. Mungkin ini menjadi suatu pertanda bahwa lamarannya diterima?

Ia mengerjap-ngerjap matanya dan bangkit menuju kamar mandi. Ambil wudhu hendak melakukan shalat tahajjud. Dalam langkahnya yang pelan dan berat karena masih di selimuti rasa kantuk, ia terus menyeret langkahnya menuju kamar mandi. Ketika lewat di depan kamar Mirza, ia mendengar sayup-sayup suara Mirza yang sedang membaca Al Qur’an. Zaen menghentikan langkahnya sesaat. Mendekatkan dan telinganya kepintu kamar Mirza. Sayupan suara itu semakin terdengar jelas olehnya. Mirza sedang membaca Al Qur’an. Suaranya syahdu. Terdengar Mirza terisak pelan disela-sela bacaannya. Zaen yang mendengar sayup-sayup dari balik pintu ikut merasakan getaran hebat dari ayat-ayat Al Qur’an yang sedang Mirza baca.

Zaen melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Mengambil air wudhu dan langsung melaksanakan shalat malam. Zaen selalu berusaha menjaga ibadah yang sudah biasa ia lakukan sejak di bangku SMA. Sejak ia bergabung di Rohis SMA dan mulai mengenal amal yaumiyyah lainnya, ia berusaha terus menjaga kestabilan ibadah wajibnya dengan ibadah-ibadah sunnahnya. Salah satunya yaitu dengan shalat tahajud.

Ia jadi teringat dengan apa yang Mas Dayat mentor di Rohis SMA nya dulu pernah katakan, shalat tahajud itu memang sangat disunnahkan, dikarenakan nilai keutamaannya yang sedemikian tinggi bahkan, Nabi Muhammad dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan Imam Muslim menyebutkan bahwa setelah shalat fardhu maka, shalat yang utama adalah shalat malam.

Di dalam Al Qur’an pun Allah banyak menerangkan tentang shalat malam, seperti salah satunya di dalam QS. Az Zariyat ayat 17 – 18 . Dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana salah satu ciri-ciri dari orang yang bertaqwa yaitu, mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah.

Dengan banyaknya ayat tentang shalat tahajud yang di kupas dalam Al Qur’an menunjukan bahwa tidak perlu diragukan lagi manfaat yang terkandung didalamnya. Menunjukan kualitasnya bagi diri kita. Baik fisik maupun non fisik.

Menurut Yazid bin Abban Ar Raqasi, shalat tahajud mampu menyehatkan mata. dan bahkan menurut Yahya bin Muadz Ar Razi, shalat tahajud merupakan salah satu obat dari sekian obat penyakit yang ada. Menurutnya, obat penyakit ada lima perkara yaitu, membaca Al Qur’an dengan dipikirkan maknanya. Mengosongkan perut (puasa). Shalat malam. Merendahkan diri di waktu fajar. Dan bergaul dengan orang-orang yang shalih.

Dengan berbagai fadhilah dari shalat Tahajjud yang diterangkan Mas Dayat pada waktu itu, Zaen akhirnya berupaya keras untuk tetap mempertahankan tahajjudnya. Bukan hanya sebatas ketenangan batin yang ia rasakan setelah melakukan shalat malam. Ia juga merasakan betapa dekatnya ia dengan sang pencipta. Ia merasakan betapa Allah begitu dekat dengannya melebihi dari urat nadi yang melekat di tubuhnya. Ia merasakan kasih sayang Allah membelai lembut dirinya malam itu. Setangkup beban, rindu, dan berjuta perasaan lainnya yang tengah dirasa olehnya dan menggantung di langit-langit pikirannya pun terasa copot satu per satu. Zaen merasakan ketenangan itu.

Zaen memulai mengangkat kedua telapak tangannya dan mensejajarkan dengan daun telinganya. Ia memulai shalat malamnya dengan takbiratul ihram yang di ikuti dengan hati yang bergemuruh hebat ketika mengucapkan takbir, ’Allahuakbar!’ dengan begitu lirihnya. Ia merasakan kemahabesaran Allah atas segalanya.

Zaen pun merasa hatinya mulai gerimis ketika ia selesai membaca surah Al Fatihah dan dilanjutkannya dengan membaca surah Al Jumu’ah. Ia merasakan betapa Mahasuci Allah lagi Mahaperkasa dengan segala macam penciptaannya. Allah yang mengatur siang menjadi malam. Malam menjadi siang. Allah pula yang mengatur bumi dan alam raya semesta untuk tetap berputar pada porosnya masing-masing yang telah ditetapkan oleh-Nya. Allah Maha kuasa atas segalanya.

Allah pula yang telah mengutus nabiyullah Muhammad kepada kaum yang buta huruf, kemudian menyampaikan risalah-Nya, menyucikan jiwa-jiwa mereka, dan mengajarkan mereka kebenaran, membebaskan mereka dari kesesatan yang nyata.

Airmata Zaen terus menetes kian deras ketika ia melanjutkan bacaannya ke surah berikutnya. Surah Al Munafiqun.

Zaen menutup qiyam nya dengan do’a malam yang panjang. Ia memohon ampun kepada Allah atas kekhilafan yang ia perbuat sepanjang hembusan nafasnya. Ia memohon perlindungan untuk orang-orang yang dicintainya. Meluruskan semua yang terasa belum lurus. Zaen meminta perlindungan agar di jauhkan dari sifat-sifat munafiq yang mampu menyeretnya ke nereka dan menanggung azab yang amat pedih.

Zaen melanjutkan do’anya dengan dzikir. Ia terus berdzikir dengan tasbih berwarna coklat dalam genggamannya hingga tertidur dan terbangun ketika alarm di handphone digitalnya memekik keras, menandakan sudah memasuki waktu shubuh.

***

Ia ingat betul, semua mimpinya berawal sekitar hampir sepuluh tahun yang lalu. Mimpi itu berawal ketika ia masih duduk di sekolah menengah pertama. Ia sudah menyimpan keinginan untuk belajar di negeri orang suatu saat nanti. Ketika itu rasa semangat belajar yang tinggi dan keberaniannya mengganntung impian terinspirasi setelah mendegar cerita dari Ibu, kalau Farhan saudara sepupunya yang tinggal di Kudus baru saja berhasil menyabet gelar master dari Negeri Paman Sam.

Berangkat dari cerita Ibu itu akhirnya impian demi impian ia bangun. Harapan demi harapan ia tata. Dan kepingan-kepingan semangat terus ia kumpulkan menjadi satu kesatuan. Sampai akhirnya ia berhasil meraih salah satu mimpinya, lulus menjadi siswa berprestasi di sekolah sekaligus dengan angka nilai tertinggi se-Kabupaten Kota Magelang.

Ia pun pulang kerumah dengan hati bahagia yang tak terkira dan langsung menyampaikan keinginannya kepada kedua orangtuanya untuk bisa melanjutkan kuliah ke Jakarta namun, kedua orangtuanya menolak. Ia akhirnya pun harus menelan kekecewaan, ketika ia tahu ternyata tidak mungkin ia bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Keduaorangtuanya yang hanya bekerja sebagai buruh tani sudah tidak mampu lagi membiayai pendidikannya hingga keperguruan tinggi.

”Masih ada kedua adikmu Zaen. Kamu harus adil. Mereka juga harus sekolah.” Ujar Bapak.

”Iya Le, kasihan adik-adikmu. Uang kuliah itu mahal. Uang darimana? Bapakmu Cuma kerja buruh cangkul, sedangkan Ibu cuma nyulam kain. Uangnya juga gak seberapa. Buat makan sehari saja sudah bersyukur,” tambah Ibu yang membuatnya kian terenyuh dan akhirnya harus menerima kenyataan yang pahit itu.
Sekalipun sakit, ia harus tetap bisa bersikap bijak sebagai anak pertama dan menerima lapangdada kenyataan pahit itu. Ia harus bisa bersikap adil kepada dua orang adiknya yang masih harus sekolah. Ia tidak ingin kedua adiknya bernasib sama seperti anak sebaya didesanya yang banyak diantara mereka putus sekolah hanya karena masalah biaya. Ia tidak ingin itu terjadi.

Dan akhirnya ia memilih untuk memutar otaknya dengan keras. Berpikir. Kira-kira langkah apa yang harus ia tempuh agar bisa meneruskan mimpinya?

Rencana demi rencana pun ia susun, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menunda kuliahnya di tahun pertama dari kelulusannya. Ia memutuskan untuk bekerja dan nekat menjual sepeda yang ia beli dari hasil tabungannya disekolah dulu untuk jadikan sebagai modal dan ongkos kesana kemari mencari kerja. Ia tidak ingin menyusahkan keduaorangtuanya. Sampai akhirnya diterima kerja di kawasan Pecinan di Toko beras Sinar Harapan.

Waktu pun terus bergulir. Pundi pundi rupiah pun ia kumpulkan dari hasil memanggul beras dan ketika merasa tabungannya sudah cukup, ia pun meneruskan rencana selanjutnya. Ia ingin membuka usaha kecil-kecilan.

Ia pun langsung melancarkan rencana selanjutnya yaitu, menyambangi salah seorang temannya di pusat kota, ia akan belajar membuat getuk yang enak.

Lepas membantu kedua orangtuanya mengurus rumah. Pagi-pagi sekali ia langsung berangkat naik angkot berwarna biru tua jurusan Salaman-Bandongan kemudian turun di pertelon Bandongan, yang dilanjutkan dengan angkot selanjutnya jurusan Kaliangkrik-Magelang. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, ia sudah sampai dan turun di Perdana kemudian jalan kaki menuju alun-alun kota Magelang.

Setibanya di alun-alun, ia langsung disambut hangat oleh temannya yang sudah datang lebih awal.

”Jadikan belajar membuat getuk yang empuk, enak, dan lezat?”

”Jadi dong, Wan.” Ucapnya pada temannya yang bernama Irwan. ”Eh iya, kamu gak ada kuliah hari ini?”

”Ada, tapi nanti siang. Ya sekarang masih ada waktulah untuk mengajarimu membuat getuk spesial. Yuk langsung ke warung aja. Bapakku sudah menunggu. Nanti bapak yang akan mengajarimu membuat getuk yang enak sedunia.”

”Wah, aku jadi tidak enak nih. Sepertinya merepotkan.”

”Ah, biasa saja. Kamu ini seperti orang baru kenal saja. Bapak malah senang karena bisa mewarisi ilmunya kepada kamu dan tidak kepada yang lain. Jadi kamu adalah murid istimewanya bapak.”

”Alhamdulillah. Beruntung sekali berarti aku ya Wan.”

”Begitulah. Yuk kita langsung berangkat saja.”

Mereka pun langsung menuju Pasar Rejowinangun yang letaknya tidak terlalu jauh dari alun-alun kota. Irwan memperkenalkan temannya, Zaen kepada kedua orangtuanya. Pak Sukatman dan Bu Warsiti menyambutnya dengan hangat.

Getuk Pak Sukatman terkenal seantero kota Magelang. Dan beruntung hari itu, ia mendapatkan ilmu langsung dari sang ahli. Zaen memperhatikan dengan seksama apa-apa saja yang Pak Sukatman jelaskan.

”Cara membuat getuk yang enak itu sebetulnya mudah Nak Zaen.” Ujar Pak Sukatman ketika akan mengawali membagi ilmunya pada Zaen, ”Pertama-tama kita pilih singkong yang berkualitas baik. Tidak sembarang singkong yang bisa digunakan untuk dijadikan bahan dasar getuk. Haruslah singkong yang benar-benar bagus. Tidak tua. Tidak juga terlalu muda.” Tambahnya dan sampai ditahap pengolahan akhir Zaen memperhatikannya dengan seksama.

Zaen pun diberi kesempatan untuk mencobanya dan langsung berhasil. Ya walaupun rasanya tidak segurih buatan tangan Pak Sukatman.

”O ya Zaen, Bapak dengar kamu ingin membuka usaha juga?” tanya Pak Sukatman disela-sela kesibukannya mengolah bahan.

Inggih Pak. Buat nabung untuk nambah-nambah biaya saya. Saya ingin melanjutkan kuliah Pak.”

”Kalau begitu, kamu bekerja saja disini saja dulu. Kebetulan Si Masyitoh yang biasa bantu-bantu disini baru saja pindah merantau ke Jakarta ikut suaminya. Jadi kamu bisa terus belajar sampai modal kamu terkumpul buat buka usaha. Bagaimana?”

”Wah luarbiasa. Niatnya hanya ingin belajar, malah ditawarin pekerjaan. Terimakasih ya Pak.”

”Iya. Ini yang namanya rezeki plus-plus dari Allah. Bersyukur sama gusti Allah. Disini kan kamu nanti sekalian bisa terus belajar toh buat getuk yang enak. Dan kalau sudah kuliah nanti, ya kamu bisa buka usaha juga.”

Zaen betul-betul salut dengan kedermawanan Pak Sukatman yang begitu rendah hati mau berbagi ilmu atas rahasia kelezatan getuk buatannya. Jarang sekali ada pengusaha yang mau berbagi rahasia dapur mereka.

Darisitu Zaen benar-benar banyak belajar dan berterimakasih, berkat kedermawanan Pak Sukatmanlah akhirnya ia bisa melanjutkan kuliah ditahun berikutnya. Zaen mencoba keberuntungan dengan mendaftar beasiswa dari DIKNAS dan ia berhasil mendapatkan beasiswa penuh di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Kasih sayang Allah begitu ia rasakan pada saat itu. Allah menjawab sudah semua ikhtiar panjangnya selama ini. Allah memberikan nikmatnya dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dalam waktu tiga setengah tahun. Zaen berhasil menamatkan studynya di UPI Bandung dengan mengambil konsentrasi manajemen bisnis dan sudah mulai merintis usaha getuknya dari tahun pertama kuliah. Hasil dari kerja keras belajar di Toko Getuk Pak Sukatman selama enam bulan lebih itu pun membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Selama ia kuliah, bisnisnya pun berkembang berjalan lancar dan cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-harinya sehingga ia sama sekali tidak membebani kedua orangtuanya bahkan, dari usahanya itu ia mampu membantu kehidupan sehari-hari keluarganya di Magelang meskipun tidak banyak.

Ia mampu membuktika kepada semua orang bahwa keterlambatan bukanlah awal dari sebuah kegagalan. Ia berhasil menuntaskan studynya yang terlambat satu tahun dibandingkan teman-teman seangkatannya dengan cepat dan tepat. Ia lulus dengan predikat CUMLAUDE.

Keterbatasan tenaga, waktu, dan biaya sama sekali tidak menjadi penghalang baginya untuk merangkai masa depannya. Justru hal-hal itulah yang ia jadikan sebagai bahan bakar semangatnya untuk terus maju. Ia tetap merangkai impiannya. Ia tetap pada tujuannya yaitu, ingin mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dan meraih gelar bergengsi dari luar negeri meski dengan keterbatasan biaya.

Zaen percaya bahwa cara terbaik untuk bisa meramalkan masa depannya adalah dengan menciptakan masa depan itu sendiri. Ia memahami kedua orangtuanya sudah tidak mampu lagi membantunya dalam hal biaya untuk merealisasikan mimpi-mimpinya. Tapi hal itu sama sekali tidak membuatnya patah semangat. Zaen percaya bahwa Allah Mahakaya dan Mahasegalanya. Zaen terus berupaya menciptakan masa depannya sendiri dengan mencoba keberuntungan demi keberuntungan. 

Dan ia tidak pernah menduga sebelumnya bahwa keberuntungan yang ia impikan selama ini bisa ia peroleh lebih cepat dari yang ia bayangkan sebelumnya. Tepatnya hampir setahun yang lalu, di tahun kedua setelah SK pengangkatannya menjadi seorang PNS di salah satu instansi pemerintahan. Dengan difasilitasi kantor, Zaen mendaftar untuk sebuah program beasiswa pascasarjana di luar negeri. Ia ingin merealisasikan salah satu impian terbesarnya selama ini yaitu bisa meneruskan kuliah di luar negeri dan tepatnya di bulan Februari setahun yang lalu, kabar gembira itu datang. Ia dinyatakan sebagai salah seorang pendaftar yang berhasil mendapatkan beasiswa itu setelah melalui serangkaian tes dan wawancara. Sejurus kebahagiaan itu langsung mengalir deras dalam aliran darahnya. Rasa kesyukuran yang tiada henti pun terus terucap seiring dengan hembusan nafasnya.

Zaen semakin mempercayai bahwa, setiap orang memiliki peluang untuk berhasil dan sukses untuk meraih impiannya. Yang menjadi pembeda hanyalah sejauh mana orang itu mau berusaha untuk mendapatkannya.

Ia semakin mantap untuk menuliskan impian-impiannya yang baru, bahkan ia tidak  takut lagi menuliskan apapun impian yang ada dibenaknya. Impian yang dulu selalu ditertawakan oleh orang banyak di desanya. Mereka bilang, ”Kamu itu harus realistis toh Zaen. Mana mungkin anak buruh cangkul bisa sukses kuliah sampai keluar negeri. Mustahil!”

Dengan lantang kini Zaen bisa mengatakan, ”Mungkin!”

Zaen sudah membuktikan bahwa anak seorang buruh cangkul bisa menggapai impiannya. Dan semoga kesuksesannya dalam meraih impiannya itu bisa di tangkap dengan baik oleh orang-orang yang dulu menganggap lemah impiannya. Semoga mereka mau belajar.

Memang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benak Zaen untuk bisa meneruskan S2 di Australia. Yang terlintas dalam pikirannya hanya dua nama negera yaitu, menuntut ilmu di Inggris atau Amerika Serikat.

Zaen percaya ia akan banyak terinspirasi oleh para dosen yang mengajarnya dan akan ada banyak pengalaman lebih yang bisa ia dapatkan jika berkesempatan belajar di dua negeri yang jauh ini. Negeri yang waktu tempuh perjalanan udara dari Jakarta kesini lebih singkat daripada waktu tempuh perjalanan darat dari Jakarta ke kampung halamannya.

Tetapi meskipun Australia tidak terlintas dalam pikirannya dulu, tentu ia sadar bahwa ini merupakan salah satu bagian karunia besar dari Allah yang tetap harus ia syukuri. Ia bersyukur telah menjadi salah satu dari 265 orang penerima beasiswa, dari sekitar 4.700 pendaftar. Kualitas pendidikan kampus salah satu yang terbaik di dunia, sehingga menarik mahasiswa internasional dalam jumlah besar. Banyak universitas di Negeri Kanguru termasuk dalam jajaran perguruan tinggi papan atas dunia.

Sebelum berangkat ke negeri selatan ini, ia diwajibkan untuk mengikuti semacam kursus persiapan selama enam pekan. Sebuah pembekalan di lembaga bahasa di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Materi pembekalan yang terdiri dari peningkatan kemampuan bahasa, studi, dan adaptasi budaya, diharapkan dapat membekalinya dan rekan-rekan penerima beasiswa lainnya untuk menempuh studi secara efektif di Negeri Kanguru. Setelah persiapan lancar ia pun di berangkatkan ke Negeri Kanguru dipertengahan tahun kemarin.

Dan hari ini, sudah hampir genap satu setengah tahun ia berada di antara wajah-wajah cerah dan antusias yang penuh dalam menggali ilmu di kampus St.Lucia ini. Dalam duduknya di dalam kelas sambil memandang keluar jendela, ia pun melantunkan bait doa kepada Sang Penentu Segala.

Duhai Allah, ridhailah upaya kami. Kiranya langkah-langkah kami bernilai ibadah di sisi-Mu, serta dapat menjadi kemanfaatan yang dapat kami berikan untuk umat, bangsa, dan negeri yang kami cintai. Berkahilah ilmu kami. Permudahkanlah langkah-langkah kami dalam menggapai ridho-Mu. Amiin.
***