***
Dibenakku, sepasang bola mata yang teduh itu masih terus saja membayangiku. Padahal, sudah hampir empat bulan aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, terakhir saat ada rapat BEM di kantor senat.
Jujur, hatiku mengatakan rindu namun, kedinginan sikapnya membuatku kelu untuk sekadar menyapa,
‘Hi Kak,apa kabarnya ?
‘Kemana saja kok sudah jarang kelihatan dikampus ?’
‘Kapan menyusun skripsinya ?’
atau,
‘Jalan yuk !’
Dan masih banyak basa-basi lainnya yang sebetulnya ingin sekali aku utarakan padanya secara langsung atau hanya sebatas lewat SMS namun sayang, semua itu hanya sampai di ujung tenggorokanku saja. Tercekat disana.
Waktu itu, banyak temanku yang bilang aku sudah gila. Berani-beraninya menaksir senior yang enam semester jauh diatasku dan sedangkan aku masih tingkat satu, yang masih seumuran jagung di kampus itu. Dan sedangkan dirinya ? pasti sudah banyak gadis lainnya yang sudah mengantri sejak lama untuk menjadi kekasihnya.
Siapa yang tidak ingin menjadi kekasihnya ? Dia lelaki yang nyaris sempurna. Dari fisiknya, dia begitu rupawan. Alur wajahnya yang membuat mata, hidung, dagu, alis, dan juga bibirnya saling menguatkan menjadi satu pemandangan yang menawan. Kecerdasan otaknya pun tidak diragukan lagi. Apalagi dia berasal dari keluarga cukup terpandang di negeri ini. Aku rasa, tidak ada anak gadis orang yang tidak meleleh ketika melihat dia melintas didepannya. Kharisma yang dimilikinya membuat dirinya menjadi orang nomer satu di jagad kampus hijau tempatku menempuh study.
‘Ah, aku semakin merindukannya.’
Aku pun memejamkan mata, mencoba mengingat senyuman khasnya yang mengembang lepas saat kutemui dirinya di basement fakultas beberapa bulan yang lalu. Sebuah senyuman yang sama sekali tidak bisa aku lupakan. Sebuah senyuman yang begitu membekas.
Hatiku berdesir-desir, Saat aku mengingat tatapan matanya yang sendu, di bawah derasnya hujan yang turun kala itu dia meliriku begitu dalam. Menyetuh dengan lembut ruang kosong disudut hatiku.
Nada bicaranya yang teratur beriringan dengan desah nafas naik turun yang hangat menyentuh kulitku, membelai indra pendengaranku. Membuat batinku tenang menyimak apa yang disampaikannya padaku sore itu. Kami membicarakannya. Membicarakan cinta. Ya cinta.
Tapi aku sendiri lupa, apa saja yang kami bicarakan tentang cinta pada waktu itu dan aku juga lupa siapa yang memulainya ? Semua perbincangan itu seakan terhapus begitu cepat oleh satu pertanyaan hebat dan dahsyat. Ya, yang aku ingat hanya satu yaitu, degup kencang hatiku yang bertalu-talu ketika ia bertanya,
“Dhi, kamu sudah punya pacar ?”
Aku tak menjawab dengan kata maupun isyarat bahasa tubuh. Aku hanya mematung diam. Dan tiba-tiba saja mulutku terkatup rapat. Seakan aku terhipnotis oleh satu pertanyaan -yang bagiku- pamungkas itu !
Ya, sore itu adalah waktu yang paling lama yang pernah kulewati bersamanya. Meskipun bukan ditempat yang romantis, aku tetap menikmatinya. Sangat berkesan dan membekas dihatiku, karena bisa berbicara dengan lelaki yang selama ini aku kagumi dan dambakan untuk menjadi seorang kekasih.
‘Tuhan, aku menginginkannya. Aku merindukannya. Aku mencintainya. Selamanya !’
Dia mampu membuatku tersenyum-senyum sendiri persis orang gila begitu bahagia ketika hanya dengan mengingat wajahnya. Yang membuat jantungku berdegup kencang ketika namanya disebut dan seketika itu juga terasa berhenti. Aku serasa mati. Mati karena cinta. Dalam peluknya.
Dan aku juga merasa keringat dingin terus menerus membanjiri sekujur tubuhku ketika dia datang menghampiriku meskipun hanya untuk sekedar ber- ‘say hello’ dari kejauhan.
Dan setelah pertemuan terakhir itu, ragaku dibawa melayang dengan apa yang baru saja kulewati bersamanya di basement fakultas. Sesuatu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya hanya sekedar ngobrol via sms dan, kalau bertemu pun hanya sekadar say hello biasa. Kala itu, aku benar-benar menikmati waktuku bersamanya, ya walaupun hanya satu jam saja. Ya, hanya satu jam !
Dan aku tidak pernah menyangka sebelumnya, ternyata satu jam itu adalah satu jam untuk selamanya. Satu jam yang akan kukenang selamanya. Semenjak sore itu sampai hari ini. Senior itu tak pernah lagi terlihat lagi di kampus. Padahal, sekarang sudah masuk ujian akhir semester. Sudah sempat aku bertanya kebeberapa temannya, namun hanya gelengan kepala dan kebisuan yang kudapatkan. Sampai tiba pesan singkat ini di hanphoneku beberapa menit yang lalu…
“Innalillahi Wainnailahi Roji’un. Telah wafat sore ini. Saudara kita, sahabat seperjuangan kita di kampus : Dandy Muhammad Fikri. Karena penyakit Liver dan paru-paru kronis yang dideritanya. Mohon do’a dari teman-teman semua. Almarhum akan dimakamkan besok pagi di TPU Karet. Semoga Alloh mengampuni dosa-dosanya. Dan memberikan tempat yang layak disisi-Nya. SEBARKAN !”
Tubuhku gemetar membacanya. Batinku terguncang begitu dahsyat. Airmataku deras mengalir membasahi pipi. Sebuah kejadian yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Seorang yang aku kagumi dan aku cintai selama ini ternyata mengidap penyakit yang begitu akut. Ingin aku berteriak dan menangis sekencang-kencangnya kepada pengatur hidup dan mati manusia, agar memberikan satu nyawa kehidupan lagi padanya. Namun itu hal yang mustahil terjadi. Ingin berteriak hingga mengguncangkan langit sekalipun itu tidak akan bisa mengembalikan roh senior yang dicinta untuk kembali menyatu bersama raganya.
Hujanpun kian deras turun membasahi bumi. Seakan mengiri duka hati yang tengah tergores perih. Hanya wajah yang teduh dan senyumnya yang ramah yang membekas dibenakku selamanya. Dan, tidak akan pernah kulupa selamanya, danau bening yang tersimpan dimata indahnya.
***
“AKU INGIN,
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
***
Pertama kali ditulis
Depok, 29 Juni 2010
Direvisi
Depok, 20 Mei 2011
Dalam balutan dinginnya senja, hatiku berkata :
“Untuk saudaraku yang menghilang dari prederan kampus.
Dimanapun dirimu berada, semoga mimpi buruk yang akhir-akhir ini singgah di tidur malamku tidak berarti apa-apa tentang kepergianmu, Saudaraku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar