Pintu kamarku terketuk keras.
“Ma...Ma... Please Ma... buka pintunya !”
Seruan untuk kesekian kalinya namun, aku masih tidak mengindahkannya.
“Ma...Please !”
Aku hanya bisa diam sambil menggigit bibir. Meremas jemariku. Dan membiarkan airmataku mengalir deras. Menterjemahkan rasa sakit yang kurasakan.
Tuhan,
Ternyata aku tak cukup mempunyai kekuatan untuk bertahan, menerima takdir yang harus aku hadapi. Sebuah kenyataan yang begitu pahit !
Dalam panjangnya perjalanan kisah cinta kami dalam berumah tangga. Baru kali ini aku menemui kecacatan dari suamiku. Kesalahan pertama yang ia lakukan, dan begitu menyakitkan !
Suamiku, berubah !
Genap tiga bulan sudah. Suamiku berubah. Aku seperti tidak mengenali dirinya lagi.
Suamiku tidak lagi mempunyai banyak waktu untuk kami. Dia mendadak menjadi seorang yang workcholic. Pendiam. Tertutup.
Awalnya aku berpikir bahwa suami sedang tidak ingin diganggu karena mungkin sedang banyak urusan pekerjaan kantor yang harus segera ia selesaikan. Namun nyatanya, tidak. Bukan itu alasan suamiku berubah.
Suamiku adalah pekerja disebuah perusahaan swasta terkemuka di jakarta yang berprofesi sebagai auditor independen. Pekerjaannya yang terkadang mengharuskannya pergi keluar kota selama beberapa hari, sudah bisa aku pahami dan maklumi sejak tahun pertama kami menikah.
Suamiku selalu menyempatkan waktunya untuk kami. Disela kesibukannya yang super padat. Hampir setiap akhir pekan, ia masih sempat mengajak aku dan buah hati kami, Thariq, pergi ke tempat rekreasi atau minimal jalan-jalan sore keliling perumahan menggunakan sepeda motor.
Ia selalu menempatkan kami dalam kategori prioritas utama. Tidak ada waktu yang tidak kami lewati bersama. Suamiku selalu menyemai benih-benih cinta setiap harinya padaku, juga pada Thariq, putra semata wayang kami yang kini baru saja masuk kelas 1 SD.
Suamiku selalu membuatku merasa bahagia dan teristimewa. Dia selalu membuatku merasa bahwa, aku adalah wanita yang paling beruntung sedunia karena telah di pertemukan dengannya.
Suamiku adalah pria yang cerdas, cekatan, ulet, ramah, dan juga romantis. Lima sifatnya itulah yang membuat aku dulu terpesona dan sampai memantapkan pilihan hatiku, hanya untuknya.
Tapi semua itu dulu. Sekarang, dia benar-benar berubah. 180 derajat !
Yang aku tahu, suamiku adalah orang yang paling tidak suka membuang waktunya begitu saja dengan percuma. Tapi akhir-akhir ini, aku sering mendapatinya duduk di balkon sambil berdiam diri memandangi langit senja yang bermandikan warna keemasan.
“Lagi mikirin apa Mas ? Kok tumben melamun. Lagi mikirin aku ya.” Tanyaku setengah menggoda.
Suamiku hanya tersenyum tipis. Tak menjawab apa-apa. Hanya senyuman dan bagiku itu tidak cukup untuk menepis rasa ingin tahuku.
“Masalah kerjaan ya mas ?” Tanyaku lagi. Ia menggeleng pelan. “Lalu apa dong ?”
“Deeek...”
Satu kata. Pelan. Tapi aku mengerti maksudnya. Suamiku sedang ingin sendiri.
Dan ku putuskan, aku memilih untuk diam. Dan membiarkan suamiku sendiri dibalkon dengan senjanya.
Aku berpikir saat itu, mungkin ia sedang butuh ruang untuk sendiri. Aku tidak akan memaksanya sampai ia sendiri yang bercerita,
Apa ?
Kenapa ?
Mengapa ?
Namun nyatanya, kini sudah memasuki bulan ketiga. Ia masih belum juga bercerita apa-apa. Ia masih suka duduk-duduk di balkon selepas pulang dari kantor. Sampai senja itu memudar, baru ia masuk ke dalam rumah. Mandi. Kemudian masuk ke ruang kerjanya sampai ia lelah memandangi layar laptopnya, barulah ia masuk kedalam kamar dan langsung tidur.
Tidak ada kecupan
Tidak ada sentuhan
Ya,
Sudah tiga bulan suamiku tidak menyentuhku sama sekali. Tidak ada kontak fisik yang kami lakukan. Aku pun terus mencoba meredam semua hasrat ini namun nyatanya, aku hanyalah manusia biasa yang bisa kalah juga. Aku mempunyai keinginan. Aku memiliki hasrat. Dan aku juga mempunyai hak sebagai seorang istri untuk digauli oleh sang suami.
Hingga pada suatu malam, akhirnya aku yang memulainya. Tanpa banyak basa basi dan permisi, aku lucuti pakaiannya satu persatu. Aku mulai permainan dengan mencoba membakar birahinya namun, ia hanya diam, pasrah, tak berkutik apa-apa.
Sampai aku lelah dengan sendirinya. Mencapai puncak orgasme separuh badan, tak sempurna. Tak senikmat biasanya. Dan merasa, aku seperti baru saja menyetubuhi mayat hidup.
dingin...
beku...
kaku...
Gelora cinta yang membuncah dari diriku sama sekali tidak menyulut hasrat bercintanya. Sepercik pun tidak !
Aku sedih...
Aku terluka...
Aku kecewa...
pada diriku sendiri !
Betapa payahnya aku sebagai seorang istri, tak bisa membangkitkan hasrat bercinta sang suami ! yang bisa kulakukan hanyalah menjerit dalam hati. Sambil terus bertanya-tanya. Mencari jawaban pasti atas perubahan suamiku yang begitu tiba-tiba.
Mencari sebuah jawaban
Aku terus mencari tahu, penyebab suamiku berubah. Dimulai dari kantornya.
Aku memberanikan diri untuk mencari tahu, seberapa sibuk suamiku dikantor. Tugas-tugasnya. Dan lain-lainnya. Ternyata tidak seperti apa yang aku bayangkan. Tidak ada pekerjaan yang berarti dan menyita waktunya untuk berpikir keras, malah semua relatif normal dan santai.
Dan aku pun kembali memutar otakku. Kemana aku harus mencari jawabannya ?
Sampai di keesokan harinya. Saat suami tengah mandi untuk bersiap berangkat ke kantor. BB suamiku memekik berkali-kali dan mengusik keingintahuanku.
Lima miss called
Dua SMS
Satu BBM
Dari nomer yang sama. Dari contact BBM yang sama.
LOVELY BLUE
Siapa Dia ?
Dengan cepat langsung ku buka satu persatu isi pesan itu. Mencurigakan.
Aku pun mulai membacanya dengan tangan yang bergetar. Membaca pesan-pesan itu dengan seksama. Tidak ingin melewati satu hurufpun dari pesan yang menurutku aneh bin ajaib itu. Sebuah pesan cinta. Perhatian. Kasih sayang. Dari seseorang yang tidak aku kenal.
“Siapa wanita ini ? Siapa dia ?” Tanyaku geram. Aku membuka foto BBMnya. Ah, nihil. Dia menggunakan foto animasi. “Mungkinkah suamiku berselingkuh ?”
Tidak!
Sungguh rasanya sulit mempercayai kalau suamiku berselingkuh. Dia pria yang cukup taat beragama dan tahu mana yang baik buruk untuk keluarga. Aku mengenal suamiku luar dalam. Dia cukup dewasa dan tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Melakukan cinta diam-diam semacam itu. Tidak mungkin !
Mungkin saja itu hanya satu dari sekian banyak orang iseng yang mengejar-ngejar suamiku. Karena aku tahu, semasa study dulu banyak wanita yang tergila-gila pada suamiku. Ia termasuk cowok idola dikampusnya. Banyak wanita yang bermimpi bisa bersanding dengannya dan menikmati indahnya surga dunia bersamanya.
Ya.
Aku percaya suamiku. Dia tidak mungkin berselingkuh !
BB suamiku memekik lagi. Tanpa ragu langsung ku angkat panggilan masuk itu tanpa suara.
“Hallo..” Suaranya berat. Serak-serak. “Sayangku.. Mas Gandi, kamu jadi kan jemput aku kan? Sudah jam berapa ini ? Aku nanti telat nih !”
DEG...!!!
Keyakinan yang baru saja kubangun sontak runtuh. Lenyap karena suara itu.
“Halloooo... say..”
Bukan suara seorang wanita melainkan suara... Agh, Suara pria dewasa ! Ya, dia, Pria !
“Maaf, Mas Gandinya sedang mandi !” Jawabku ketus. Sekilas suara disebrang sana tergagap ingin menimpali sahutanku, namun buru-buru ku tutup telpon itu dengan hati yang perih. Sangat perih. Kakiku pun tak mempunyai kekuatan lagi untuk menapak dibumi. Seluruh jiwa ragaku tak percaya kalau nyatanya suamiku telah berselingkuh.
Gila. Ini benar-benar gila. Suamiku berselingkuh dengan seorang pria ? Berselingkuh dengan wanita saja aku tidak akan rela, apalagi ini dengan seorang pria. Agh, MENJIJIKAN !
Airmata yang sudah kutahan sejak lama pun akhirnya keluar menetes perlahan, bersamaan dengan langkah suami yang baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung terkejut mendapati aku menangis dipojokan sofa.
“Ada apa Ma ?” Tanyanya sambil mencoba menyentuhku. Aku menepisnya.
“Jangan sentuh saya !” Pintaku sambil memberikan handphone itu dengan kasar. “Ini handphone kamu. Barusan pacar kamu telpon. Minta dijemput.”
Suamiku nampak kebingungan,
“Apa sih maksud kamu ? Papa gak ngerti ?”
“Tanya saja pada Lovely Blue. Nanti kamu pasti akan mengerti !” Kataku dan wajah suamiku membias.
BRUUUGKK !
Aku membanting pintu kamar. Dan mengunci diri rapat-rapat. Tenggelam dalam airmata, kepedihan, dan sejuta rasa tidak percaya bahwa nyatanya suamiku benar-benar telah berselingkuh. Bukan dengan seorang wanita, melainkan dengan seorang pria !
Dug..Dug..Dug...!
Pintu kamarku terketuk keras.
“Ma...Ma... Please Ma... buka pintunya !”
Seruan untuk kesekian kalinya namun, aku masih tidak mengindahkannya.
“Ma...Please !”
Aku hanya bisa diam sambil menggigit bibir. Meremas jemariku. Dan membiarkan airmataku mengalir deras. Menterjemahkan rasa sakit yang kurasakan.
Tuhan,
Ternyata aku tak cukup mempunyai kekuatan untuk bertahan, menerima takdir yang harus aku hadapi. Sebuah kenyataan yang begitu pahit !
Dalam panjangnya perjalanan kisah cinta kami dalam berumah tangga. Baru kali ini aku menemui kecacatan dari suamiku. Kesalahan pertama yang ia lakukan, dan begitu menyakitkan !
Finally, i want ...
Aku tidak bisa membuat pilihan lain. Hanya satu keputusan yang aku punya yaitu, bercerai. Aku tahu Tuhan tidak menyukainya tapi, inilah yang terbaik untuk aku dan juga Thariq. Aku tidak ingin putra sematawayangku ikut terjangkit virus sama seperti ayahnya. Karena yang aku tahu, penyakit semacam itu menular. Sebelum terlambat maka, aku harus menyelamatkan Thariq.
Aku ingin Thariq tumbuh menjadi manusia normal. Dengan pergaulan yang normal. Dan juga dengan masa depan yang normal.
Biarlah aku yang mendidiknya. Biarlah aku yang mengurusnya.
Aku tidak bisa lagi merubah keputusanku. Aku sudah terlanjur jijik. Sakit hati. Kecewa.
Sungguh, aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang selama ini ada dibenak suamiku ketika menggerayangiku dan menyetubuhiku.
Apa yang selama ini ada diotaknya ketika mengulum bibirku ?
Apa yang ada dibenaknya saat ia meregang diatas puncak kenikmatan ? Apa ?
Entahlah, apa jawaban yang akan kuberikan nanti kepada keluarga, teman, dan juga anakku jika sudah besar nanti. Yang jelas, aku tidak mungkin menceritakan kisah yang sebenarnya. Aku tidak mungkin mencoreng nama suamiku yang dipandang baik oleh orang banyak. Tidak mungkin.
Bagaimanapun juga, dia adalah mantan suamiku. Ayah dari putraku. Meskipun dia telah menorehkan luka dihatiku sedemikian sakitnya. Aku akan tetap menghormatinya.
Aku akan tetap merahasiakannya sepanjang usiaku. Biarlah aku yang menanggung derita ini. Merasakan pahitnya dikhianati. Biarlah...
Dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku masih mencintainya. Aku masih menginginkannya. Tapi aku tidak bisa lagi hidup bersamanya.
Dilema.
Aku hanya bisa berdo'a. Semoga semua rasa sakit ini bisa cepat tersembuhkan dan suamiku di anugerahkan kekuatan oleh Tuhan untuk berubah dan meluruskan jalan hidupnya yang ternyata sudah lama menyimpang.
Amiin...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar