Ternyata begini rasanya mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. segala bentuk macam perasaan jadi campur aduk menjadi satu dalam perasaan. benar-benar ga enak sama sekali.
Semua berawal ketika gue tahu bahwa IP gue di semester ini gak sesuai dengan ketetapan target yang udah gue tulis di list mimpi gue di tahun ini. Emosi. Mau marah, tapi sama siapa? sekalipun gue mau marah dan mengutuki kegagalan pun gue akan melakukannya itu sama diri gue sendiri.
Gue merasa gagal. Gak bisa menjalankan amanah kuliah dengan baik.
semua gara2 gue menyerah untuk satu mata kuliah yang gue udah ketinggalan jauh. gue memutuskan untuk pasrah dan mengabaikan matakuliah itu begitu saja. apalagi di tambah dengan sikap dosennya yang masuk kuliahnya seenak jidatnya. Mata kuliah yang lain udah mau UAS, nah mata kuliah si dosen ini malah baru UTS. Aneh bin ajaib...
Tapi setelah semua gue abaikan dan sekarang gue udah melihat hasilnya, gue baru tersadarkan bahwa apa yang gue lakukan pada waktu itu nyata nya salah ! Salah besar !!!
seharusnya gue gak putus asa waktu itu. seharusnya gue gak usah keburu ilfeel sama dosen itu. seharusnya gue tetap semangat menghadapi rangkaian angka-angka yang menari-nari indah di lembaran-lembaran kertas. seharusnya gue hadapi itu semua, bukannya malah cuek dan mikir "Ah, gampanglah nanti aja bisa ngulang." Seharusnya gue gak usah mikir seperti itu. Seharusnya gue... seharusnya.. seharusnyaaa..... Aaargh !
Sekarang ini gak ada yang gue rasakan selain kegagalan. walau cuma 1 mata kuliah gue yang dapat jelek, tapi rasanya gimanaaa gitu! dari 1 mata kuliah yang jelek itu merusak nilai gue yang indah-indah lainnya. bener deh ibarat pribahasa, gara-gara setitik nila, rusak lah susu satu kaleng.
(menghela nafas panjang-panjang. tarik lagi. keluarin lagi. tarik lagi. keluarin lagi. aaah... lega!)
buru-buru gue langsung istighfar. "Astaghfirullahaladzhim!"
sejenak, gue mencoba diam. merenungi. mencoba menggali hikmah yang ada dari kejadian ini. Karena gue percaya, gak ada satu pun kejadian dalam hidup ini baik itu yang gue alamin, atau lo..lo.. dan lo alamin itu tanpa suatu hikmah yang luar biasa dari Allah. Allah pasti punya maksud tersendiri... dan gue percaya itu.
dan sampai akhirnya, gue inget dengan sebuah nasehat seorang sahabat, "Jangan sampai kegagalan itu membuat kita tenggelam dalam keputusasaan yang lebih dalam lagi. Bangkit. Dan teruslah bergerak!"
gue semakin memperdalam istighfar gue. mohon ampun pada Allah Azza wa jalla atas kekhilafan yang sudah gue lakukan.
Gue pun akhirnya gak mau lagi mikirin perasaan sedih yang gue tengah rasakan itu tapi gue lebih milih memikirkan penyebab, kenapa gue bisa gagal? dan akhirnya gue pun menemukan jawabannya.
Gue sadar, semua ini mungkin akibat kejahiliyahan yang gue lakukan selama setahun belakangan ini. Menjadi anak malam, dan nakal sana-sini. Senggol kanan-senggol kiri, nyatanya berdampak buruk dengan prestasi gue juga. Innalillah.... mohon ampun atas kekhilafan selama ini ya Rabb.
Selain itu, Ternyata selama ini gue terlalu tenggelam dalam sebuah obsesi yang terlalu tinggi dan terlalu over optimis yang akhirnya membuat gue buta dan kurang jeli dalam menilai sesuatu.
Sekarang gue baru 'ngeh' kalau ternyata optimisme yang berlebih itu justru malah mendorong hati untuk bersikap UJUB dan TAKABBUR juga meminimalisir sikap tawadhu dan tawakkal. (Astagfirullah.. Innalillah...)
Gue inget, bagaimana seorang Sayyid Quthb pada jamannya waktu itu mengulas peperangan Badar. Beliau mengutarakan bahwa pasukan islam harus menghindari dua kutub perasaan yang bisa melemahkan. Jika pasukan Islam menganggap musuhnya sangat banyak dan kuat, itu akan melemahkan mental dan pasukan dalam berperang. Sebaliknya, jika pasukan Islam menganggap musuhnya sedikit dan lemah, itu juga akan memunculkan kelemahan dan mental perang yang tidak kuat. karena itu, kita harus mempersiapkan dri untuk tidak berada dalam dua kutub tu. Kita harus berada ditengah-tengah. Kita tidak boleh menganggap target yang akan dicapai terlalu berat, dan juga tidak boleh menganggap target itu sangat mudah di capai. Keduanya mewarisi kelemahan dan menjauhkan kita dari sifat tawakkal pada Allah swt.
Subhanallah, sungguh indah Sayyid Quthb mengulas demikian dan menyadarkan gue yang terjerembab jauh di dua kutub itu.
Gue sih berharap banget, kisah gue ini bisa jadi pelajaran buat semua teman2 yang sedang kuliah, atau yang baru akan kuliah, atau mungkin yang sedang menyusun skripsi, atau juga yang sudah bekerja... semuanya deh.. :D
Semoga kita senantiasa terselamatkan dari sikap yang terlalu over optimis, dan senantiasa menaruh rasa semangat dan optimis dalam kadar yang tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar