Pemuda itu berkali-kali menengok jam di pergelangan tangannya. Sudah lewat empat puluh lima menit dari pukul enam sore dan itu tandanya, ia sudah telat lima belas menit untuk sampai di restoran tempat dimana ia akan bertemu dengan seseorang yang dalam beberapa waktu belakangan ini sering meneleponnya.
Pagi itu. Dering itu lagi. Nomor itu lagi.
Handphonenya bergetar dan berkali-kali memekik keras. Benar-benar memecahkan konsentrasinya menghafalkan dialog sinetron yang di bintanginya dan di pagi itu sebelum berangkat ke lokasi syuting sinetron, ia sudah berada di dalam set lokasi syuting iklan terbarunya.
Risman, manajer pribadinya datang menghampirinya seraya memberikan telepon genggam miliknya. Risman tahu, hanya orang-orang tertentu saja dan penting yang bisa menelepon ke nomor pribadi itu.
Dengan perasaan jengkel pun ia akhirnya membanting naskah yang tengah dibacanya ke lantai dan meraih telepon itu dari Risman. Ia menarik nafas berat. Entahlah ia betul-betul malas sekali menanggapi nomor yang tidak di kenalnya itu.
“Ya. Hallo.” Ucapnya dingin dan datar.
“Selamat pagi Mas Raffa.”
“Hm.”
“Sebelumnya, apakah telepon saya ini mengganggu?” Tanya penelepon itu dengan sopan, “Sedang syuting ya Mas?”
Jelas mengganggu sekali! Sebenanrnya, apa yang anda inginkan dari saya? Tapi sayang, bukan kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Kalimat itu hanya tercekat di ujung tenggorokannya saja.
“Ya. Ada yang bisa saya bantu?”
“Ada.”
“Apa?”
“Bagaimana dengan tawaran saya beberapa waktu lalu. Apakah mas setuju?”
Ia pun mulai mengingat-ingat tawaran yang dimaksud penelpon itu. “Maaf, tawaran yang mana ya?”
“Bagaimana kalau kita ketemu?” Tawar orang itu.
“Maaf, saya sibuk.” Sahut Raffa dengan angkuh.
“Saya sangat tahu itu. Semua orang juga pasti tahu itu.” Kata penelepon itu, “Masa mas tidak bisa, sekitar satu atau setengah jam saja lah mas?”
Benar-benar menyebalkan. Memangnya penelepon ini siapa, bisa dengan seenaknya menawar waktu yang ia miliki. Baginya, satu detik saja begitu berharga. Lantas, jika ia meluangkan waktunya untuk bertemu dengan seseorang yang tidak ia kenal itu, apakah itu bukan sama saja dengan membuang waktu dengan percuma?
“Sebenarnya anda tahu darimana nomor telepon pribadi saya?” Tanya Raffa dengan emosi yang masih tertahankan. Ia merasa paginya di ganggu dengan telepon aneh semacam ini. Ia serba salah, jika tidak ditanggapi, orang ini akan terus-menerus meneleponnya. Dan sekalinya ditanggapi, malah membuatnya jengkel.
“Itu tidak penting!”
“Baiklah. Jika pertanyaan saya barusan itu bagi anda tidak penting. Bagi saya pun telepon ini juga sangat tidak penting.” Balas Raffa dengan kejamnya, “Kalau memang ingin membicarakan masalah pekerjaan, anda bisa menghubungi manajer pribadi saya. Dan jangan pernah menelepon ke nomor ini lagi. Gunakan nomor bisnis!”
Raffa betul-betul emosi. Dia nyaris menutup telepon itu.
“Fa, apakah untuk bermain di film-film besar, iklan yang bagus, manajermu juga yang akan memutuskannya? Apakah untuk membaca scenario, dan menerima tawaran peran-peran yang menantang sekaligus lain dari biasanya, apakah manajermu juga yang memutuskannya?”
Raffa tertegun mendengar ucapan penelpon itu. Ia merasa serasa di lilit pertanyaan yang mematikan. Rentetan kalimat yang penuh emosi itu. Ia merasa seperti mengenalinya dan juga, panggilan ‘Fa’ yang beda dari orang-orang yang biasa memanggilnya ‘Raf’, membuatnya mencoba berpikir lebih keras. Sebenarnya, siapa dia?
Ia pun tenggelam dalam bisu. Lama.
“Mas Raffa, on location! Stand by.” Teriak salah satu crew di lokasi syuting iklan.
“Maaf, sepertinya kamu sudah harus mulai pengambilan gambar.” Ucap penelepon itu. Seperti bisa mendengar teriakan crew itu. “Baiklah kalau begitu, nanti saya hubungi lagi. Thanks.”
“Tunggu, sebetulnya siapa anda?”
Tuuts… Tuuts.. Tuutss..
Sambungan telepon itu terputus. Raffa pun tenggelam dalam kebingungan.
***
Hari-hari pun berlalu. Raffa menjadi limbung dengan hal yang dulu baginya tidak penting itu namun, ia malah dibuat sibuk dengan melacak nomor telepon itu di received call dan ia pun langsung menghubungi penelepon itu,
“Jadi mas menerima tawaran dari saya?”
“Jangan kegirangan dulu. Saya menelepon bukan untuk itu.”
“Lantas?”
“Dimana kita akan bertemu? dan jam berapa?”
“Nanti dimana dan jam berapanya saya SMS mas.”
“Baiklah. Saya tunggu.”
“Terima kasih.”
“Hm.”
***
Mobil BMW hitam itu pun melesat memasuki plataran parkir dengan cepat. Mencari celah di antara jejeran mobil-mobil lainnya yang sudah datang lebih dulu darinya. Mobil BMW itu pun akhirnya berhenti di samping mobil Mer-C silver yang mengkilat-kilat tertimpa sinar rembulan.
Ia pun mempercepat langkahnya dan segera memasuki restoran yang sudah di tentukan penelepon itu. Sekali lagi, ia melongok jam di pergelangan tangannya.
“Sial! Tiga puluh menit! Ini pasti sudah telat sekali.” Gumamnya dalam hati.
Dua orang wanita berdiri menyambutnya dengan ramah di ambang pintu masuk restoran. Mereka nampak ceria ketika tahu tamu yang di sambutnya adalah seorang aktor tampan yang tampangnya sering ia lihat di berbagai macam iklan dan sinetron.
“Mas Raffa. Silahkan, meja pesanan untuk mas, sudah kami siapkan.” Ucap salah seorang dari mereka. “Silahkan mas, disebalah sini.” Katanya dengan sopan sambil menunjukan arah.
“Ternyata orang itu sudah memesan tempat untukku. Atas namaku pula. Luar biasa.” Ucapnya dalam hati.
‘What?’ Raffa hampir saja membelalakan matanya yang sipit ketika ia tahu, tempat yang sudah dipesankan untuknya adalah di sudut ruangan, dekat jendela, dan mengarah ke pintu masuk. Tapi setelah ia duduk, ia tidak jadi menyesal. Karena pemandangan dari sini cukup indah, restoran yang berada di lantai 7 ini cukup indah dan begitu memikat. Pemandangan malam kota Jakarta yang luar biasa. Bermandikan berjuta cahaya lampu dimana-mana. Indah.
Raffa pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling isi restoran. Memperhatikan, kira-kira seperti apa rupa si penelepon itu? Mungkin seperti dia, dia, atau mungkin…
Raffa tertegun ketika pandangan matanya tertarik ke arah pintu masuk.
Mungkin itu dia?
Seorang lelaki dengan menggunakan kemeja lengan panjang berwarna merah marun yang digulung ke siku, dengan sweater hitam hangat yang di ikat melingkar di pundaknya datang memasuki restoran. Lelaki itu berhenti sebentar dan nampak menyapa kedua gadis yang tadi menyambut kedatangan Raffa di depan pintu masuk.
Sejurus kemudian, tubuhnya yang tegap menjulang sekitar 175 cm itu terus berjalan ke arahnya. Wajahnya yang tampan khas oriental, yang di hiasi dengan kedua lesung pipi itu pun tersenyum kepadanya.
Raffa tidak membalasnya. Ia hanya duduk diam seperti tersengat aliran listrik yang maha dahsyat. Mulutnya terkunci rapat.
“Mungkinkah itu dia? Benarkah?”
Raffa terus berperang dengan berbagai pertanyaan dalam hatinya.
“Jadi dia penelepon itu?” Tanyanya dalam hati, “Untuk apa? Untuk apa dia kembali?”
Dan,
“Hai,” Sapa lelaki itu yang kini sudah berdiri tepat dihadapannya. Menarik kursi kemudian duduk bersebrangan dengannya.
Kini, mereka hanya di batasi meja, bukan lagi jarak ribuan pulau yang membatasi mereka. Raffa menundukan pandangannya. Ia melihat ke dalam hatinya yang hancur berantakan. Sakit. Perih.
Raffa masih terjebak dalam keterkejutan yang luar biasa. Ia pun akhirnya memilih untuk melempar pandangannya keluar jendela daripada harus memandang makhluk di depannya.
Langit malam seketika berubah muram. Rembulan pun ikut menghilang di balik awan. Rintik-rintik hujan turun perlahan.
Begitu cepat rasanya waktu berputar. Berubah-ubah. Rasa-rasanya baru saja ia menikmati keindahan kerlap-kerlip kota Jakarta yang bermandikan cahaya lampu terang namun kini, keindahan itu mengabur dengan tetesan air hujan gerimis.
“Jadi,
Suara itu…
Kata-kata itu…
Gaya bicara itu…
Yang mematahkan semua logikaku adalah, kamu!”
Raffa tidak mau berbicara satu patah kata pun. Terlalu banyak rasa yang bercampur aduk menjadi satu. Ia bingung, harus memuntahkan yang mana terlebih dahulu.
Raffa pun terpasung dalam diam. Menikmati senandung hatinya yang terus gerimis.
***
Saat gerimis menari-nari indah di sela-sela kebahagiaanku hari ini.
(Sebuah kisah yang terinspirasi dari status BBM seorang teman, ‘Dancing in the rain’)
Depok, 22 Juli 2011
Said Umar :: Dhiyas MZ

eh om umar dhiyas mz..good job
BalasHapusceritanya gantung. tu orang siapa mas ?
BalasHapus