Masuk kuliah tinggal hitungan minggu. Kurang dari sebulan, gue bakalan mulai menginjakan kaki lagi di kampus hijau yang meneduhkan.
Ya sejujurnya gue udah lama banget menantikan hari bahagia itu tiba. Ketemu temen-temen. Mulai sibuk dengan tugas-tugas kuliah dan mendengarkan nasehat-nasehat dari dosen yang biasanya nih, setiap semesternya ada aja yang bikin gue jatuh hati alias kesem-sem dengan nasehat yang disampaikan itu.
Ugh, gue bener-bener udah gak sabaran mau membalas dendam gue di semester kemarin. Seperti yang udah gue ceritakan di notes gue sebelum-sebelumnya. Kisah tentang bagaimana IP gue semester kemarin merosot tajam. Innalillahi, Astaghfirullah…
Namun sayang guys, kesiapan gue itu belum dibarengi dengan kesiapan gue untuk menyambut jejak-jejak masa lalu gue bersama dia yang tertinggal dikampus. Meskipun sekarang dia sudah pergi jauh ke ujung timur pulau Indonesia sana tapi tetap aja yang namanya kenangan, jejak-jejak keindahan gue selama menghabiskan waktu dua tahun kemarin masih tertinggal hampir disemua sudut kampus. Tidak ada bagian dari sudut kampus yang tidak terjamah oleh masa lalu itu.
Gue sendiri sebenarnya sempat bingung, dilema, atau apapun lah itu namanya ya…
Gue gak tahu harus bagaimana menyikapi situasi seperti ini. Klo lu semua tahu, seharusnya apa dan bagaimana yang gue sikapi, please banget kasih tahu gue ya. Bisa via inbox FB, DM Twitter, SMS, BBM gue, atau lo bisa juga ngomong langsung ke gue. Gue bakal nerima lo semua dengan tangan terbuka. :D dan siapa yang ngasih saran yang terbaik, bakal dapat piring cantik plus tanda tangan gue di piring tersebut. Mau kan? Hmm, kalau kurang. Nanti gue tambahin deh dengan foto terbaru gue yang tampannya luar binasa. Yeaaah! ^___^
Guys, Mungkin bagi sebagian orang, temen-temen gue yang udah tahu masa-masa yang kemarin gue lalui itu. yang biasa gue sebut dengan masa hitam. Mungkin akan sedikit faham dengan notes yang gue tulis kali ini. Mungkin mereka tahu, siapa yang gue maksud ini dan bagaimana kisah pahit yang gue lalui bersama dia kemarin.
Guys, seperti yang sering gue bilang. Setiap orang itu memiliki masa lalunya masing-masing. Dan pastinya jika masa lalu itu pahit, tentu dia pasti ingin bangkit. Tidak ingin berlama-lama tenggelam dalam masa yang pahit itu. Ya begitupun gue. Bagi gue, dia adalah masa lalu gue yang pahit. Sangat pahit. Dan gue kepingin banget melupakan itu semua. Tapi apa daya, semakin gue berusaha dan ngotot untuk melupakan semua, rasa pahit itu semakin kuat. Aih, DAMN !
Gue nyaris aja putus asa. Kehilangan semangat gue untuk menata hidup dan hati gue yang udah hancur parah banget. Dia udah pergi dengan santainya ke pulau sebrang untuk melanjutkan hidupnya yang baru. Sedangkan gue? gue masih disini. Diam dan tegak berdiri dengan suatu perasaan yang gue sendiri tidak pernah dengan pasti pangkal ujungnya ada dimana?
Let’s singing guys,
Aku berjalan didalam kesendirian
Aku mencoba tak mengingatmu dan mengenangmu
Aku telah hancur lebih dari berkeping-keping
Karena cintaku
Karena rasaku yang tulus padamu
Begitu dalamnya aku terjatuh dalam kesalahan rasa ini !
Jujur, aku tak sanggup! Aku tak bisa! Aku tak mampu!
Dan aku tertatih
Semua yang pernah kita lewati tak mungkin dapat aku dustai
Meskipun aku harus tertatih…
(Kerispatih – Tertatih)
Meskipun dengan langkah tertatih, gue pun akhirnya tetap memutuskan untuk bangkit. Berusaha dengan segenap tenaga yang masih tersisa untuk melanjutkan hidup gue sendiri. Gue gak mau ambil pusing lagi segala sesuatu yang berkaitan dengan dia. Gue tutup telinga gue rapat-rapat. Kuat-kuat. Cukup! Cukup kebodohan itu gue lakukan sampai disitu.
Hari demi hari gue lalui dengan berusaha mengumpulkan kepingan puzzle jati diri gue yang dulu. Gue merasakan kehilangannya semenjak gue mengenal dia di pertengan bulan September dua tahun silam. Dan akhirnya gue berhasil. Satu per satu puzzle itu mulai terkumpul walaupun masih ada yang hilang entah terselip dimana tapi gue akan tetap mencarinya. Gue mulai menjalani aktifitas gue seperti dulu lagi. Aktif diberbagai kegiatan positif dan sambil mencoba mengembangkan potensi potensi yang ada didalam diri gue.
Dan sampai akhirnya gue melihat perubahan dia pun juga cukup signifikan. Gue bisa merasakan itu ketika dia memulai BBM gue terlebih dahulu dan menanyakan sesuatu yang berada diluar jangkauan gue. Gue sama sekali gak menyangka dia akan menanyakan hal itu ke gue. Gue sempat berpikir kalau itu hanya sekedar basa basi tapi nyatanya tidak. Gue merasakan perubahan dia cukup luar biasa. Dengan hidup bersama kakaknya disana yang notebene kakaknya itu aktif dalam keagamaan, gue pikir dia juga sedikit demi sedikit mulai terpengaruh. Gue mulai merasakan dirinya menjadi positif. Sampai akhirnya barusan nih, gue baca status BBM dia yang akan mengajar dilingkungan pesantren dan memberikan pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu disana. Dahsyat!
Gue pun menjadi galau lagi deh… duh.. perasaannya jadi kepingin lagi bersay-hi ria dengan dia. tapi gue sadar, kalau gue mulai bersay-hi yang kurang penting. Justru hal itu yang akan menjadi racun tersendiri buat gue. Ibarat seperti gue menanam ranjau, eh malahan gue yang nginjek sendiri.
Yups.. yups..yups..
Finally, akhirnya sekarang gue cuman lagi mikir bagaimana caranya supaya gue nanti pas dikampus gak kebayang-bayang dia lagi. Gak kepikiran kenangan-kenangan itu lagi. Bagaimana? Apakah dengan menyibukan dengan hal-hal positif itu cukup efektif untuk melupakannya? Jika YA, katakan YA. Jika tidak?
Hmm…. Please doooong kasih masukan ya?
Guys, gue jadi keingetan dengan salah seorang guru ngaji gue yang dulunya itu pas mau berangkat penempatan kerja ke daerah terpencil di pulau Sulawesi sana, beliau berujar, “Semoga Allah mempertemukan kita kembali didunia dengan pertemuan yang jauh lebih baik lagi.”
Ya kurang lebih begitu do’a dan harapan guru ngaji gue dulu sebelum ia benar-benar pergi. Dan nyatanya mungkin do’a dan harapan itu pas kali ya kalau gue katakan dalam kondisi gue yang saat ini.
Jika sekiranya memang ‘berjodoh’, gue percaya kok. Pastinya Allah akan mempertemukan lagi gue dengan dia. namun jika tidak, pastinya gue percaya kalau Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui niatan gue dan dia untuk sama-sama melepas masa lalu dan menggantinya dengan masa depan yang jauh lebih baik lagi. Amiin.
Terakhir nih..
Hmm, gue teringat dengan salah satu twit dari master golden ways kita, Pak Mario Teguh. Dalam motivasi yang ia sampaikan salah satunya ialah,
“Betapa pun buruk, nista, atau kelamnya masa lalumu, masa depanmu masih suci. Dan, masa lalumu tidak akan mempengaruhi masa depanmu. Kamu lah yang menentukan masa depanmu akan seperti apa!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar