Lihat, Baca, Dan Resapi!
Aku hanyalah manusia biasa yang ingin bercerita...

Edisi

Total Tayangan Halaman

Senin, 22 Agustus 2011

Satu Jam Untuk Selamanya


Aku masih termenung di depan jendela kamarku yang mulai mengembun. Cuaca teriknya matahari yang menanak bumi seketika berubah menjadi gumpalan awan hitam kelabu yang menyatu. Tubuhku masih terasa lemas setelah membaca pesan singkat yang baru saja ku terima di handphone digitalku. Petir menggelegar sahut menyahut menggentarkan bumi. Aku gemetar mendengarnya. Apakah raja langit sedang marah ? Atau sedang berduka ?

Dibenakku sepasang bola mata yang teduh itu masih terus saja membayangiku. Padahal baru dua minggu aku tidak bertemu dengannya namun, kerinduan hatiku sudah sedemikian menyeruak hebat. Membentur dinding hati. Mencoba memaksa keluar. Melarikan diri ke ujung lidah, kemudian dengan lirihnya berujar, “Kak aku rindu. Sangat merindukanmu!”

Jujur hatiku ingin mengatakan rindu itu padanya segera.
“Hi Kak,apa kabarnya?”
“Kemana saja kok sudah jarang kelihatan dikampus?”
“Kapan menyusun skripsinya?”

atau,

“Jalan yuk!”

Dan masih banyak basa-basi lainnya yang sebetulnya ingin sekali aku utarakan padanya baik secara langsung maupun hanya sebatas lewat pesan singkat. Namun sayang, semua itu tidak pernah benar-benar terlaksana. Semua kerinduanku hanya sampai di ujung tenggorokanku saja. Tidak pernah tersampaikan dengan sempurna. Semua tercekat begitu saja. Lama. Kemudian mengendap di dasar jiwa.

Sudah cukup banyak dari temanku yang bilang aku sudah gila ketika mereka tahu, aku mulai menggila dengan berani-beraninya menaksir senior yang enam semester jauh diatasku dan sedangkan aku masih tingkat satu. Aku memang masih tergolong mahasiswa baru yang masih seumuran jagung di kampus itu, dan sedangkan dirinya? Mungkin sudah banyak gadis yang mengantri sejak lama untuk menjadi kekasihnya. Mungkin juga kualitasku tidak sebanding dengan mereka. Penampilan fisikku saja hanya masuk kategori standard gadis pinggiran kota, dan juga kecemerlangan otakku tidak lebih di ambang rata-rata. Tapi meskipun begitu, aku tetap percaya diri. Aku juga percaya akan suatu hal bahwa kemurnian cinta tidak pernah memandang usia. Tidak pernah memandang status sosial, kecemerlangan otak, maupun keindahan fisik.

Aku meyakini bahwa cinta adalah kenyamanan hati. Dan kenyamanan hati, tidak pernah bisa di ukur dengan semua itu.  Aku percaya bahwa ia juga mempercayainya.

Siapa yang tidak ingin menjadi kekasihnya?

Dia lelaki yang nyaris sempurna. Dari fisiknya, ia begitu rupawan. Alur wajahnya yang membuat mata, hidung, dagu, alis, dan juga bibirnya saling menguatkan menjadi satu pemandangan yang menawan. Kecerdasan otaknya pun tidak diragukan lagi. Apalagi dia berasal dari keluarga cukup terpandang di negeri ini. Aku rasa, tidak ada seorang gadis pun yang tidak meleleh ketika melihat ia melintas didepannya. Kharisma yang terpancar kuat dari dalam dirinya membuat ia menjadi orang nomer satu di jagad kampus hijau tempatku menempuh study.

Ia adalah lelaki terindah yang pernah kulihat. Aku begitu terpikat. Aku memuji pada Tuhan atas keindahan ciptaan makhlukNya yang sedemikian indah tanpa cela.

Kesantunan sikapnya pada semua orang, membuatnya begitu mengena dihati siapa saja yang dekat dengannya. Sekalipun itu hanya sekian detik sepermenit.

“Oh Tuhan, aku semakin merindukannya!”

Aku pun memejamkan mataku, mencoba mengingat senyuman khasnya yang mengembang lepas saat kutemui dirinya di basement fakultas beberapa waktu yang lalu. Sebuah senyuman yang sama sekali tidak bisa kulupakan. Sebuah senyuman yang begitu membekas.

Hatiku berdesir-desir hebat saat aku mengingat tatapan matanya yang sendu, di bawah derasnya hujan yang turun kala itu dia meliriku begitu dalam. Menyetuh dengan lembut ruang kosong disudut hatiku.

Nada bicaranya yang teratur beriringan dengan desah nafasnya yang naik turun terasa begitu hangat menyentuh kulitku, membelai indra pendengaranku. Membuat batinku tenang menyimak apa yang disampaikannya padaku sore itu. Sebuah pembicaraan ringan sambil menunggu hujan reda.

Saat itu, ia mengulas senyum mematikannya padaku. Ia berdiri tepat disampingku, kemudian bertanya, “Maria, kok gak langsung pulang?”

Sungguh, aku tersentak saat ia menyebut namaku. Aku tidak percaya, ia tahu namaku. Padahal sama sekali aku tidak pernah berkenalan langsung dengannya. Lain halnya dengannya. Tanpa ia harus mengenalkan dirinya pun aku sudah tahu siapa dirinya, sedangkan aku? Aku hanyalah seorang mahasiswi biasa yang sedang berjuang untuk bisa menuntaskan study dengan beasiswa yang ku perjuangkan mati-matians.

“ii..ii..iya Kak, masih nunggu hujan sampai reda.”

“Gak di jemput supir?”

“Supir angkot maksud kakak?” Sahutku polos, “Aku kuliah naik kendaraan umum Kak.”

“Maaf!” Sergahnya cepat sambil menunjukan ekspresi menyesal. Tulus. Aku bisa melihat dari sorot matanya. Kata maaf yang meluncur dari mulutnya itu jelas bukanlah sebuah sandiwara. Wajahnya pun sedemikian kian menawan. Dengan begitu semakin nampak dirinya, bahwa lelaki yang tengah berdiri disampingku adalah pemuda yang berhati tulus lagi baik. Aku semakin mengangguminya.

“Kalau kakak sendiri, kenapa gak langsung pulang? Bukannya kakak ke kampus biasanya bawa mobil?”

“Iya. Kebetulan mobilnya sedang di service. Ini sedang nunggu di anter lagi. Tadi saya tinggal karena buru-buru ada kuliah siang. Saya minta tolong ke montirnya untuk di antar ke kampus kalau sudah selesai.” Paparnya memberikan penjelasan. Ia begitu terbuka. Hangat. Ramah. Sejak detik pertama bicara, ia memiliki eye contact yang begitu kuat. Ia terus memandangku sebagai lawan bicaranya.

“Terus sudah selesai servicenya?”

“Tadi sudah di telpon, katanya sudah on the way kesini.”

“O…” Aku membulatkan mulutku sambil mengangguk-angguk pelan. Aku terus berusaha meredam perasaanku yang menggebu-gebu kegirangan. Aku terus berusaha sekuat tenaga untuk menundukan pandanganku. Mengontrol diri supaya tidak loncat dan menghamburkan tubuhku ke dalam pelukannya.

Sesaat suasana menjadi hening. Hanya terdengar rintikan air hujan yang menderas menyerbu bumi, dan juga desah nafasnya yang terdengar menderu pelan. Teratur. Hangat.

“Kamu tidak di jemput pacar?” Ujarnya tiba-tiba memecah kesunyian. Aku tergagap mendengarnya.

“Hah? Apa kak? Maaf gak dengar. Hujannya deras.” Kataku pelan. Ia pun mengulas senyum. Masih senyum yang itu-itu juga. Senyuman yang meneduhkan pandangan sekaligus mematikan. Lesung pipi di kanan kiri pipinya pun membayang.

Ia pun kembali bertanya, “Maria, kamu sudah punya pacar?”

Aku tak menjawab dengan kata maupun isyarat. Aku yakin, rasanya pertanyaan itu berbeda dari yang sebelumnya. Mengapa? Akhirnya aku hanya bisa mematung, diam. Tiba-tiba saja mulutku serasa terkatup rapat. Seakan-akan, aku terhipnotis oleh satu pertanyaan -yang bagiku- pamungkas. Hebat. Tepat mengenai sasaran. Hatiku.

“Maria?” Ia mengibaskan telapak tangannya tepat di depan wajahku, “Are you okay?”

Kali ini aku yang mengulas senyum andalanku. Ia membalasnya dengan senyuman yang jauh lebih indah dari sebelumnya. Ia pun mulai membahas yang lain. Memilih topik-topik pembicaraan ringan lainnya sampai akhirnya datang sebuah mobil Terano berwarna hitam pekat yang di ikuti dengan mobil Avanza hitam di belakangnya kemudian berhenti tepat di depan fakultas, bersebrangan hanya berjarak beberapa meter dari tempat kami berdua berdiri saat itu. Seorang lelaki dengan menggunakan seragam khas montir bengkel berwarna biru kuning itu berlari menghampiri kami.

“Mas, ini mobilnya sudah selesai. Maaf telat lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Hujan dan jalan kesini tersendat karena macet mas.” Ungkap montir bengkel itu.

“Tidak apa-apa Mas Parjo. Terima kasih ya!” Petugas itu pun berlari meninggalkan kami dan masuk ke mobil Avanza hitam, kemudian sejurus berlalu dari penglihatan kami.

“Jadi?” Katanya.

“Jadi?” Ucapku mengulangi katanya, “Jadi apa Kak?”

“Jadi kamu masih mau tetap disini atau…”

“DAAAN!”

Suara keras itu memanggil-mangilnya,

“DANDY!”

Seorang gadis cantik bertubuh semampai dengan kaki mulus yang jenjang berlarian di koridor fakultas menghampiri kami di ujung lobby.

“Dan, aku pulang bareng kamu ya? Reno gak bisa jemput aku nih. Sebel! Katanya dia masih kejebak macet di Gatot Subroto.” Adu gadis itu padanya.

“Okay.” Jawabnya. Gadis itu tersenyum lega.

“Maria, saya pulang duluan ya.” Tuturnya berpamitan. Aku tersenyum seraya mengangguk pelan. Lemah.

Akhirnya ia pun berlalu pergi ke dalam Terano hitam miliknya dengan gadis cantik bertubuh semampai itu. Yang kemudian menghilang di belokan ujung jalan menuju pintu keluar kampus.

Aku menarik nafas berat. Menghembuskannya perlahan. Lega.

Bagaimana pun juga, sore itu akan tetap menjadi waktu yang paling indah bagiku karena bisa melewati waktu bersamanya. Meskipun bukan ditempat yang romantis, aku tetap bersyukur. Sangat berkesan dan membekas dihatiku, karena bisa berbicara dengan lelaki yang selama ini aku kagumi dan dambakan untuk menjadi seorang kekasih.

‘Tuhan, aku menginginkannya. Aku merindukannya. Aku mencintainya. Selamanya !’

Dia mampu membuatku tersenyum-senyum sendiri persis orang gila begitu bahagia ketika hanya dengan mengingat wajahnya. Yang membuat jantungku berdegup kencang ketika namanya disebut dan seketika itu juga terasa berhenti. Aku serasa mati. Mati karena cinta. Cinta dalam diam. Diam dalam peluknya. Hangat.

Dan aku juga merasa keringat dingin terus menerus membanjiri sekujur tubuhku ketika dia datang menghampiriku meskipun hanya untuk sekedar ber- ‘say hello’ dari kejauhan.

Dan setelah pertemuan terakhir itu, seolah-olah ragaku di bawa melayang-layang ke sebuah negeri nan indah. Hamparan padang rumput yang menghijau segar. Bunga-bunga beragam rupa, warna, dan harumnya begitu semerbak menusuk sukma. Aku benar-benar bahagia dengan waktu yang ku lalui bersamanya di basement fakultas waktu itu. Sesuatu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya kami hanya berpapasan dan sekedar bertegur sapa sambil melepas senyuman. Tetapi sore itu, aku benar-benar menikmati waktuku bersamanya, ya walaupun hanya satu jam saja. Ya, hanya satu jam !

Sungguh aku sama sekali tidak pernah menyangka sebelumnya, ternyata satu jam itu adalah satu jam untuk selamanya. Satu jam yang akan kukenang selamanya.

Sejak sore itu sampai hari ini. Senior itu tak pernah lagi terlihat lagi di kampus. Padahal, sekarang sudah masuk ujian akhir semester. Sudah sempat aku tanyakan ke beberapa teman yang kebetulan anak senat namun, hanya gelengan kepala dan kebisuan yang kudapatkan.

Dan,

Sampai pada akhirnya, tibalah pesan singkat ini di hanphoneku beberapa menit yang lalu…
“Innalillahi Wainnailahi Roji’un. Telah wafat sore ini. Saudara kita, sahabat seperjuangan kita di kampus : Dandy Muhammad Fikri. Karena penyakit Liver dan paru-paru kronis yang dideritanya. Mohon do’a dari teman-teman semua. Almarhum akan dimakamkan besok pagi di TPU Karet. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosanya. Dan memberikan tempat yang layak disisi-Nya. SEBARKAN !”

Tubuhku gemetar hebat ketika membacanya. Batinku terguncang begitu dahsyat. Airmataku deras mengalir membasahi pipi. Sebuah kejadian yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Seorang yang aku kagumi dan aku cintai selama ini ternyata mengidap penyakit yang begitu akut. Ingin aku berteriak dan menangis sekencang-kencangnya kepada pengatur hidup dan mati manusia, agar memberikan satu nyawa kehidupan lagi padanya. Namun itu hal yang mustahil terjadi. Ingin berteriak hingga mengguncangkan langit sekalipun itu tidak akan bisa mengembalikan roh senior yang dicinta untuk kembali menyatu bersama raganya.

Hujanpun kian deras turun membasahi bumi. Seakan mengiri duka hati yang tengah tergores perih. Hanya wajah yang teduh dan senyumnya yang ramah yang membekas dibenakku selamanya. Dan, tidak akan pernah kulupa selamanya, danau bening yang tersimpan dimata indahnya.

***

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”
-Khalil Gibran-

***
Pertama kali ditulis
Depok, 29 Juni 2010
Direvisi dari judul sebelumnya (Kabut Cinta di UIN Jakarta)

Depok, 20 Mei 2011
Dalam balutan dinginnya senja, hatiku berkata :
“Untuk saudaraku yang menghilang dari prederan kampus.
 Dimanapun dirimu berada, semoga mimpi buruk yang akhir-akhir ini singgah di tidur malamku tidak berarti apa-apa tentang kepergianmu, Saudaraku.”

1 komentar: