DAMN !!!
Subhanallah banget nih... pernikahannya Dian Pelangi dan Mas Tito. Bener-bener deh bikin gue semakin membulatkan tekad untuk menikah muda cuy. Eits tapi, maksud gue disini nikah muda bukan terburu-buru nikah karena saking udah kagak nahannye. Bukan. Bukan itu...
Gue suka banget nih dengan konsepnya Dian dan Mas Tito. Luar biasa. Persis dengan apa yang selama ini gue bayangkan tentang pernikahan gue nantinya bakal kayak apa.
Jika ngomongin nikah muda gue jadi teringat dengan beberapa teman gue yang melakukan hal yang luar biasa itu (sebenarnya gue mau bilang, hal nekat bin gila bin ajaib, tapi gak enak nyebutnya! hihihi)
Jadi gini, sekitar pertengahan tahun 2009 yang lalu, ada seorang teman gue. Lumayan dekat. Selain gue sama dia udah kenal dari jaman SMP, saat itu gue juga kebetulan satu kerjaan sama dia. Sama-sama bekerja sebagai seorang peyiar radio komunitas yang ada di jakarta selatan.
Gue rasa pada waktu itu bukan hanya gue sendiri yang shock ketika sebuah undangan sederhana berwarna kuning muda tergeletak pasrah di atas meja ruang siaran. Sepasang nama tertera disana sebagai sepasang calon pengantin. Semua dibuat surprise oleh rekan kerja di radio itu. Dia betul-betul telah mengambil keputusan berani untuk menikah di usianya yang belum genap 20 tahun. Bukan hanya sampai disitu. Keputusan berani itu pun dia ambil yaitu dengan cara menikahi seorang gadis yang usianya baru 18 tahun dan baru saja menanggalkan seragam putih abu-abu. Gadis yang di nikahinya itu ternyata, usut punya usut, setelah diketahui ternyata adalah pendengar setia radio gue bekerja dulu itu.
GILA.. bener2 GILA bagi gue. Gue gak sampai kebayang kalau dia berani mengambil keputusan senekat itu (sorry to say ya, gue bilang gitu). Soalnya selain si temen gue ini belum punya pekerjaan tetap dan gak kuliah juga, si ceweknya baru banget lulus SMA.
Satu lagi nih kisahnya hampir sama. tapi bedanya, klo yang ini temen deket gue sewaktu di SMA. Baru banget beberapa bulan yang lalu. Tepatnya bulan Juli, temen deket gue yang asli Sulawesi ini nikah. Bener, sama persis dengan apa yang gue rasakan. Semua temen2 satu angkatan di SMA, guru2, adik2 kelas yang kenal dia ikut2an shock mendengar kabar bahagia itu.
Singkat cerita, gue dan beberapa teman dekat gue datang menghadiri pernikahannya dengan beragam rasa tidak percaya. Apalagi saat tiba di acara pernikahannya di masjid Komplek DPR MPR RI di Kalibata. Melihat temen deket gue itu pakai baju pengantin putih2, rasa-rasanya masih melihat dia seperti menggunakan baju seragam putih abu2. Tapi lagi-lagi ini adalah pilihan. Dan gue, maupun teman-teman gue yang lainnya ngasih standing applause buat sohib gue yang satu itu.
Setelah hari pernikahan itu, gue akhirnya mendengar cerita tentang keputusan sohib gue itu menikah muda. Salah seorang sahabat gue lainnya yang kebetulan menjadi panitia pernikahan pada waktu itu akhirnya menceritakan semuanya setelah sebelumnya gue dan temen2 gue lainnya juga pada nanya. Penasaran.
Setelah mendengar cerita itu. cukup banyak perasaan dihati gue yang ikut bercampur aduk menjadi satu. Tapi terlepas dari semua yang gue rasakan itu, gue tetap salut. Karena ya memang pada intinya gue percaya bahwa si sohib gue semasa SMA itu benar-benar membuktikan bahwa dia adalah seorang lelaki sejati yang telah berani mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Yaitu untuk menikah muda di usianya yang baru saja genap 20 tahun tanggal 22 agustus 2011 kemarin dan menikahi gadis yang usianya terpaut jauh lebih tua 10 tahun darinya. Sungguh luar biasa.
Guys, berangkat dari keputusan-keputusan besar temen2 gue itu akhirnya membuat gue berpikir nih. Apakah gue akan mengambil keputusan yang sama seperti mereka? apakah gue mampu mengambil keputusan seberani itu? gue pun mulai mengukur diri.
Guys, gue pun sekarang sudah menemui jawabannya.
Ya. Setiap manusia sudah memiliki ketetapan hidupnya masing2 dari Allah swt. termasuk untuk masalah kapan ia akan menikah. Gue menyadari betul bahwa gue belum bisa melakukan hal yang seberani dan sejantan kedua teman baik gue itu. Belum berani.
Gue belum berani mengambil langkah seperti itu karena setelah mengukur diri dan merenung, cukup ada banyak hal yang menjadi pertimbangan gue.
Jika ada yang bilang, kalau untuk kebaikan itu jangan banyak mikir, kalimat itu untuk kali ini gak berlaku buat gue. kenapa? ya karena begini guys... gue nantinya sebagai cowok yang akan menjadi suami dan imam dalam rumah tangga gue haruslah bertanggung jawab atas kesejahteraan keluarga gue. istri dan anak-anak gue.
Nah, disitulah yang menjadi pertimbangan gue.
Okay, kalau masalah keinginan insya Allah gue sudah siap untuk menikah. Tapi ya untuk masalah kesiapan financial, pendidikan anak, dan lain sebagainya, gue rasa gue masih perlu banyak belajar dan persiapan.
memang, ada kalimat yang mengatakan bahwa dengan menikah Allah akan melapangkan rezeki. Jangan khawatir untuk masalah rezeki. Insya Allah jika untuk kebaikan Allah pasti akan membantu.
Yups, gue setuju dengan kalimat itu. Tapi, kita juga harus berpandangan realitis. Kita harus melihat tantangan jaman sekarang ini. Tantangan perekonomian. pendidikan, dan lain sebagainya. Lalu jika kita sudah sadar akan kedahsyatan tantangan itu, cukupkah kita hanya bermodalkan dengan keyakinan bahwa Allah akan melapangkan rezekinya untuk kita? Tentu tidak! Kita juga harus dimodali dengan usaha kerja keras untuk mendapatkan itu semua.
Guys, .. Sahabat muda yang tengah berbunga-bunga karena cinta..
Menikah memang mudah, tapi kehidupan setelah pernikahan tidaklah mudah.
Mari, sebelum kita membuat keputusan besar dalam hidup kita. Alangkah baiknya kita juga memikirkan terlebih dahulu bagaimana kehidupan kita nantinya setelah pernikahan. Sudah cukupkah modal kita untuk membangun rumah tangga?
Klo gue pribadi menginginkan pernikahan yang sekali-sekalinya dalam seumur hidup gue itu menjadi pernikahan yang barakah dan juga terindah bagi istri gue. Gue gak mau ngebikin acara yang ‘flat’… gue mau buat acara pernikahan yang Wah !
Dari sedini mungkin,kita harus mempersiapkan konsep dengan matang. Baru setelah itu, laksanakan apa yang telah kita impikan selama ini. Yaitu, membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah.
** NB : semua ini sekadar opini gue aje ye... klo ada yang mau ngasih masukan, yoo monggo :D
Jadi gimana? Sekarangudah nikah yah mas?
BalasHapusanda sudah nikah? bagi pengalaman bro?
BalasHapus... :)
BalasHapus